Tag Archives: dampak lingkungan

Dampak Bangunan terhadap Lingkungan

Bangunan merupakan tempat kita bekerja, bermain, beraktivitas, beristirahat dan terlindung dari cuaca yang ekstrim. Hampir 80% waktu kita dihabiskan di dalam bangunan. Dengan demikian, maka kualitas lingkungan di dalam bangunan berpengaruh terhadap kesehatan dan produktivitas kita. Namun di sisi lain, pembangunan sebuah gedung berdampak besar terhadap lingkungan hidup. Hal ini karena bangunan adalah entitas besar, dimana konsekuensi dari proses pembangunan sebuah gedung adalah penggunaan sumber daya alam dan energi serta dihasilkannya limbah yang dapat mengganggu harmonisasi alam.

Potensi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh bangunan dimulai dari tahap pemilihan lahan. Lokasi bangunan menentukan berapa banyak jejak ekologi yang akan diganggu. Jika dibangun dilahan hijau alami, maka habitat dari tumbuhan dan hewan yang sebelumnya menempati ekosistem tersebut akan terancam lalu mencari habitat baru atau bahkan musnah. Hal ini mengancam biodiversitas. Memasuki tahap konstruksi, pembangunan akan mengkonsumsi material dan energi dalam jumlah yang relatif besar. Material yang digunakan berasal dari pengerukan sumber daya alam dan produk manufaktur yang juga menghasilkan limbah ke lingkungan. Pengadaan material membutuhkan jasa pengiriman untuk sampai ke lokasi proyek sehingga jarak lokasi manufaktur ke lokasi proyek akan menentukan jumlah karbon yang diemisikan kendaraan ke atmosfir. Pada tahap konstruksi, kebutuhan energi listrik dan air juga dibutuhkan meskipun tidak sebanyak masa pakai dan operasi bangunan. Namun, yang kerap kali diabaikan adalah pengelolaan limbah padat dan cair serta emisi udara berupa debu maupun bising yang mengganggu lingkungan di sekitar proyek. Biasanya, pengerjaan konstruksi berat dilakukan di malam hari dengan penyediaan lampu yang relatif terang. Namun, tak sedikit lampu sorot yang disediakan mengganggu kenyamanan warga yang melintas dan berpotensi mengganggu jalur penerbangan di malam hari. Meskipun demikian, hal ini belum menjadi isu penting di negara kita.

Selanjutnya, memasuki tahap operasi dan pemeliharaan bangunan. Isu lingkungan yang nyata adalah konsumsi energi listrik, konsumsi air dan limbah. Pertama dari segi konsumsi energi listrik. Indonesia sebagai negara yang panas dan lembab berpengaruh terhadap besaran konsumsi energi sebuah bangunan. Desain bangunan yang tidak mempertimbangkan beban panas dan lembab akan menjadi beban pendingin sehingga meningkatkan konsumsi listrik. Konsumsi listrik sebuah bangunan tergantung penyediaan produksi listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Produksi listrik dari energi bauran sebesar 65% berasal dari pengguna batu bara. Bahan bakar tak terbarui tersebut berasal dari pertambangan yang berdampak besar terhadap deplesi lingkungan. Selain itu, produksi listrik memiliki dampak lingkungan karena emisi udara (SOx, NOx, Partikel, CO, CO), limbah cair (antara lain: pH, temperatur, phosphate, chlorine, TSS), dan limbah beracun dan berbahaya (fly and bottom ash dalam jumlah besar). Sehingga dapat dikatakan, bahwa konsumsi energi listrik pada sebuah bangunan  memiliki asosiasi terhadap penipisan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan secara luas.

Kedua dari segi konsumsi air, ditekankan kepada penyediaan sumber air, kualitas air, jenis peralatan plambing dan sanitary serta perilaku pengguna bangunan. Penggunaan air yang berasal dari air bawah tanah akan mengurangi kebutuhan generasi mendatang karena terbatasnya volume air di akuifer. Jika terjadi eksploitasi penggunaan air bawah tanah akan menyebabkan penurunan muka air bawah tanah, sekaligus penurunan kualitas dan kuantitas air tersebut. Dampak buruk yang tidak dirasakan cepat namun perlahan dan meluas adalah banjir dan kerusakan bangunan akibat penurunan muka air tanah. Kemudian terjadi intrusi air laut ke permukaan air bawah tanah sehingga kualitas air menjadi buruk. Oleh karena itu, perlu alternatif sumber air untuk memenuhi kebutuhan aktivitas penggunanya.

Selanjutnya yang ketiga adalah limbah yang dihasilkan dari sebuah bangunan berupa limbah cair dan limbah padat (sampah). Limbah cair dapat dihasilkan dalam jumlah lebih besar dari biasanya, jika sebuah bangunan menyediakan fasilitas jasa makanan dan laundry.  Jika limbah tersebut langsung dibuang ke badan sungai maka kualitas air sungai langsung menurun. Sama halnya dengan limbah padat, jika tidak dilakukan pengelolaan dengan baik (reduce, reuse, recycle) maka beban sampah kota akan semakin meningkat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.