Rumah dan Kelembaban

Musim penghujan telah tiba. Pernahkah terpikir untuk menghubungkan antara hujan dengan lembab di rumah anda? Mungkin anda sering jumpai rumah-rumah dengan kondisi masalah lembab dan jamur yang serius namun dibiarkan begitu saja. Hal ini disebabkan masih kurangnya perhatian kita terhadap isu lembab. Sebelum membahas lebih jauh tentang lembab, disini akan sedikit diuraikan mengenai perbedaan istilah: moisture, humidity dan dampness, yang dalam bahasa Indonesia memiliki kata yang sama yaitu lembab.

Sumber Lembab dan Risiko Kesehatan

Moisture (lembab) dalam bangunan dapat berupa uap air atau titik air atau basah, biasanya dapat dirasakan atau dilihat pada obyek atau menempel pada bahan bangunan. Sedangkan Humidity (lembab) merupakan tingkat basah yang ada di udara dari hasil penguapan air, keberadaannya tidak selalu dapat dirasakan, kecuali ketika mengembun dalam bentuk droplet atau tetesan air pada permukaan bangunan yang lebih dingin dari sekitarnya.

Moisture dalam struktur bangunan dapat mempengaruhi bahan bangunan yang mengarah ke proses mikrobiologis dan kimia, misalnya dengan mengemisi zat berbau dan iritan dan/atau alergen. Kelembaban relatif (relative humidity) di udara dalam ruangan dapat menyebabkan kondensasi pada permukaan ruangan yang dingin, juga mengakibatkan pertumbuhan mikroba dan proses kimia. Peningkatan humidity juga dapat meningkatkan risiko serangan tungau debu rumah.

Dinding LembabIstilah ‘dampness’ merupakan indikator lembab yang tergantung dari sumber masalah di dalam bangunan. Misalnya: “visible mold” (jamur pada dinding) dan kondensasi di dinding adalah indikasi tingginya  kelembaban relatif di dalam ruang ditambah kombinasi permukaan yang dingin. Sedangkan, “damp stain and spots” (bercak noda pada dinding), “damp water damage” (dinding rusak karena lembab), dan bau pengap atau apek seringkali merupakan indikasi moisture pada konstruksi bangunan.

Berikut ini beberapa faktor risiko lembab pada bangunan, antara lain: konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai dan dinding yang tidak kedap air, emisi cat dinding (bahan bangunan) yang belum kering, uap air dari aktivitas memasak, aktivitas mandi, respirasi, pipa air yang bocor, dan banjir.

Perkembangan Studi tentang Lembab

Adanya hubungan antara kesehatan dan “dampness” (kelembaban) merupakan pembahasan para pakar dari multidisiplin ilmu, antara lain melibatkan ilmu kesehatan dan keselamatan kerja (K3), kesehatan masyarakat, teknologi HVAC, fisika bangunan, mikrobiologi, dan epidemiologi. Berdasarkan studi tersebut (Bornehag, et al. 2001), tinggal atau bekerja di gedung yang damp (basah) nampaknya meningkatkan risiko untuk sejumlah efek kesehatan terutama gejala pernapasan seperti batuk dan asma, termasuk gejala tidak spesifik seperti kelelahan dan sakit kepala. Hasil diskusi dan analisis menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kelembaban dan efek kesehatan. Namun, tidak diketahui seperti apa agen kelembaban (misalnya seberapa lembab) di udara dalam ruangan yang menyebabkan efek kesehatan.

Pengetahuan yang terbatas tentang mekanisme di balik hubungan antara kelembaban dan efek kesehatan bukan berarti menjadi kita tidak bisa ikut campur tangan dalam masalah kelembaban di gedung.

Hal yang jelas dikemukakan adalah adanya dugaan kuat mengenai kelembaban yang menyebabkan efek kesehatan dan lagipula hingga saat ini belum ada indikasi bahwa tinggal di sebuah bangunan lembab dapat meningkatkan kesehatan. Jadi, hal ini merupakan sebuah tantangan besar untuk ilmu pengetahuan dalam menjelaskan asosiasi tersebut. Hal yang terlihat jelas adalah dampak lembab berupa jamur dan noda di tembok atau langit-langit rumah anda akan menurunkan estetika interior bangunan, bahkan terkadang bau apek yang ada akan mengganggu kenyamanan anda. Sebagai saran praktis adalah sebaiknya menghindari kelembaban dalam bangunan.

Menghindari Lembab di Rumah Anda

Pada umumnya Negara tropis yang merupakan kondisi lingkungan perumahan anda, berada pada kondisi kelembaban udara yang tinggi. Upaya untuk menjaga rumah anda dari lembab, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Perhatikan sirkulasi udara

Area basah seperti kamar mandi dan uap dapur menyebabkan uap air terperangkap di dalam rumah dan menjadi lembab. Dengan memasang exhaust fan atau menambah jumlah dan luas jendela di rumah anda, dapat mencegah dan mengurangi kondensasi yang terjadi. Caranya cukup mudah yaitu dengan membuka jendela atau mengaktifkan exhaust fan untuk memasukkan udara segar dari luar agar terjadi aliran udara segar ke dalam ruangan rumah anda.

  • Periksa atap rumah

Biasanya memeriksa dan membersihkan atap rumah, jarang dilakukan bahkan dianggap enteng. Bila dilakukan, biasanya ketika musim hujan telah tiba dan atap bocor sudah terasa mengganggu. Jika anda belum merasa tergganggu, biasanya dibiarkan saja dan pada keadaan inilah lama-lama akan nampak bercak noda jamur pada langit-langit dan tembok rumah anda.

Sebaiknya, atap rumah harus tersegel dengan baik dan lebih baik jika ditambahkan pelapis anti bocor. Pastikan juga saluran air hujan di atap rumah anda tidak tersumbat oleh daun kering atau kotoran lainnya yang dapat menyebabkan air hujan tumpah atau merendam rongga atap atau mengalir melalui talang ke tembok luar sehingga atap dan dinding menjadi basah dan lembab.

  • Periksa pipa saluran air

Pipa air yang bocor seringkali diabaikan. Padahal bocor yang kecil dan lambat tetapi dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan bahan bangunan di sekitarnya dan rumah menjadi terasa lembab. Jadi jika anda merasa lembab pada rumah anda, sebaiknya coba periksa pipa saluran air.

  • Pastikan lantai dan dinding anda kedap air

Kondisi lantai dan dinding yang tidak kedap bisa saja terasa basah akibat rembesan air atau lembab dari tanah meskipun di cuaca panas. Air dari luar atau dari dalam tanah bisa mengalir melalui celah lantai dan dinding yang tidak kedap (karena berporous) terutama rumah di daerah yang lebih rendah dari permukaan air. Hal ini akan menjadi masalah ketika musim penghujan tiba dan ketika permukaan tanah sudah jenuh air sehingga rembesan air akan kerap terjadi. Solusinya memang agak rumit yaitu merombak kembali permukaan lantai rumah agar lebih tinggi dibandingkan permukaan air, atau dengan cara melapiskan dinding dan lantai agar lebih kedap air untuk mencegah lembab melalui celah yang ada.

  • Memasukan sinar matahari ke dalam rumah

Sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah melalui bukaan jendela yang cukup, atau dengan membuat atap atau dinding kaca. Sinar matahari dapat membantu mengeringkan area basah dan juga menyehatkan keluarga anda. Oleh karena itu, sediakan sinar matahari ke dalam rumah anda dalam jumlah yang cukup.

  •  Perhatikan air buangan AC

Tren penggunaan Air Conditioning (AC) di rumah merupakan alih-alih untuk menciptakan udara yang nyaman dari panasnya udara di ibukota. Air buangan AC seringkali diabaikan dan dibiarkan mengalir begitu saja di lantai luar rumah dan menjadi suasana yang kondusif untuk berkembangnya jamur dan lumut. Bahkan, tak jarang ditemui, air hasil kondensasi AC ini perlahan merembes ke dalam dinding rumah sehingga dinding interior terkelupas catnya hingga berjamur. Untuk mengatasinya, sebaiknya alirkan air tersebut dengan selang langsung ke saluran buangan atau tampung dahulu ke ember dan anda bisa gunakan air tampungan ini untuk menyiram tanaman.  Nah, yang terakhir ini sekalian untuk menghemat air. Selamat mencoba.

(Diterbitkan di Majalah Media Properti (Mitra Properti Indonesia). Edisi 2-II. Maret 2013.

Bahan Bacaan:

Interior Ramah Lingkungan

What is the use of house if you don’t have a decent planet to put it on?”. Pertanyaan tersebut sudah dilontarkan oleh Henry David Thoreau, seorang naturalis dari Amerika, sekitar 150 tahun silam. Lalu dalam beberapa dekade terakhir ini, hal yang sama menjadi perhatian dunia. Meningkatnya pengetahuan akan terjadinya perubahan iklim global akibat aktivitas manusia menjadi momentum yang tepat untuk menyusun strategi pengurangan emisi karbon dan dampak lingkungan lainnya di sektor bangunan.

Dorongan ke arah desain yang berkelanjutan meningkat pada tahun 1990-an dan menelurkan sistem peringkat bangunan hijau yang pertama kali pada tahun 2000 di Inggris yang disebut Building Research Establishment’s Environmental Assessment Method (BREEAM), kemudian United States Green Building Council (USGBC) mengikutinya dengan merilis sistem peringkat bangunan hijau yang disebut dengan Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) for New Construction. Pendekatan sistem peringkat ini dilakukan dengan mempertimbangkan peraturan pemerintah setempat dan disesuaikan dengan isu lingkungan di masing-masing negara. Indonesia sebagai negara tropis tentunya memerlukan pendekatan desain berkelanjutan yang berbeda dengan desain bangunan di negara empat musim. Oleh karena itu, pada April 2008 berdiri Konsil Bangunan Hijau Indonesia (Green Building Council Indonesia) dan meluncurkan sistem peringkat bangunan hijau pada 17 Juni 2010 yang disebut Greenship, untuk bangunan baru.

Desain bangunan yang ramah lingkungan bertujuan untuk menghemat energi listrik yang berarti mengurangi emisi karbon dan menghemat biaya operasional gedung, serta menjaga produktivitas penghuninya dengan menjaga kualitas udara ruang yang sehat. Jika desain bangunan hanya memperoleh performa bangunannya saja yang prima, tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan penghuninya, maka bangunan tersebut belum dapat disebut berkelanjutan. Polusi udara di dalam gedung, seringkali berasal dari emisi material furnishing dan komponen perabotan. Oleh karena itu, desain gedung yang ramah lingkungan harus didukung oleh desain interior yang juga ramah lingkungan.

Greenship Ruang Interior

Greenship Ruang Interior adalah sistem penilaian untuk mewujudkan suatu konsep interior yang ramah lingkungan, meliputi penilaian pada tahap fit out, kebijakan pihak manajemen dalam melakukan pemilihan lokasi atau pemilihan gedung serta pengelolaan yang dilakukan oleh pihak manajemen setelah aktivitas di dalamnya mulai beroperasi. Obyek penilaian Greenship Ruang Interior bertitik berat pada sebagian atau seluruh ruangan di dalam gedung dengan peranan penting pihak manajemen gedung dan desainer interior.

Seperti sistem peringkat Greenship lainnya, tingkat peringkat Greenship Ruang Interior berdasarkan empat kategori yaitu Platinum (dengan pencapaian nilai minimum 75). Gold (59), Silver (47), dan Bronze (36). Perolehan nilai berasal dari penilaian enam kategori yaitu Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD), Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency and Conservation/EEC), Konservasi Air (Water Conservation/WAC), Sumber dan Siklus Material (Material Resources and Cycle/MRC), Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruang (Indoor Health and Comfort/IHC), dan Manajemen Lingkungan Bangunan (Building Environment Management/BEM). Dari keenam kategori tersebut fokus terbesar yaitu di kategori IHC (maksimum nilai 29) dan MRC (maksimum nilai 28), kemudian dilanjutkan kategori EEC (maksimum nilai 14), ASD dan BEM (maksimum nilai 12), serta WAC (maksimum nilai 8), total nilai dari seluruh kategori adalah 103.

Desain interior yang ramah lingkungan tidak hanya bicara mengenai estetika, kecantikan dan keindahan, tetapi juga harus bicara mengenai sehat, aman dan nyaman. Disini, konsep mengenai kualitas udara ruang dalam harus mulai dipikirkan. Selain itu, desain interior yang ramah lingkungan juga bicara mengenai keberlanjutan. Desainer interior perlu mencari tahu lebih dalam mengenai produk-produk yang digunakan, seperti: apakah console table yang digunakan berasal dari kayu hasil hutan produksi yang legal.

Fokus utama desainer interior di dalam Greenship Ruang Interior adalah perannya terhadap terwujudnya kualitas udara dalam ruang yang sehat dan nyaman dan pemilihan material yang ramah lingkungan.

Kualitas Ruang Dalam yang Sehat dan Nyaman

Cat interior biasanya mengandung senyawa organik yang mudah menguap (Volatile Organic Compound/VOC). Terkadang untuk mendapatkan warna tembok interior yang pas, dilakukan pengecatan berlapis-lapis. Pemilihan cat lebih didasarkan kepada selera warna dibandingkan dengan pertimbangan kandungan zat yang dapat membahayakan kesehatan yaitu VOC. Cat, tentu saja tidak digunakan untuk tembok tetapi juga langit-langit dan perabotan. Beberapa penelitian menunjukkan, emisi VOC dari material bangunan terbukti dapat menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan, sakit kepala, serta berpotensi kanker. Semakin tinggi kadar VOC di ruangan maka keluhan gangguan kesehatan semakin besar. Dampak ini tentunya akan lebih dirasakan oleh petugas yang mengecat.

Saat ini, cat interior ramah lingkungan dapat dengan mudah kita temukan di pasaran. Meskipun masih banyak konsumen yang berorientasi kepada harga yang lebih murah, namun desainer interior yang sudah paham akan pentingnya kesehatan jangka panjang, maka sudah selayaknya memprioritaskan pemilihan cat yang ramah lingkungan. Terlebih lagi jika cat ini untuk keperluan kamar bayi atau ruang berkumpul keluarga. Tentunya kita tidak ingin, orang-orang yang kita sayangi akan terpajan polusi yang membahayakan kesehatan.

Untuk mengetahui cat ramah lingkungan dapat ditanyakan kepada produsen atau melihat pada Material Safety Data Sheet (MSDS) mengenai kadar VOCnya. Untuk cat emulsi yang ramah lingkungan, kadar VOC maksimum adalah 50 gram/liter. Selain mengetahui kadar VOC, dapat juga dengan melihat sertifikat hasil uji dari lembaga sertifikasi tertentu, seperti Singapore Green Label Sheme dari Singapura, European Eco Label dari Uni Eropa, dan Green Seal dari Amerika Serikat. Di Indonesia, untuk saat ini belum ada lembaga kompeten yang melakukan uji cat ramah lingkungan.

Perabotan dan karpet juga berdampak terhadap kualitas udara. Biasanya emisi formaldehida yang dihasilkan kayu lapis dan kayu komposit berasal dari zat perekat kayu dan pernis. Perabotan dan karpet akan berada dalam kondisi terbungkus rapat ketika kita membeli, dan sesampainya di ruangan yang dituju, barulah kemasan dibuka. Saat itulah, perabot mengeluarkan emisi formaldehida yang seringkali membuat mata perih dan bau yang menyengat. Biasanya reaksi keluhan akan cepat muncul bagi orang-orang yang memiliki alergi, sensitif dan asma. Dengan demikian, interior menjadi tidak indah jika kita tidak nyaman bernapas.

Lebih dalam mengenai interior ramah lingkungan, yaitu sinar matahari yang masuk ke ruangan melalui jendela, penting untuk kesehatan dan dapat meningkatkan suasana hati (mood) serta menghemat biaya penerangan. Kualitas tingkat pencahayaan lampu perlu disesuaikan dengan aktivitas penghuninya sehingga dapat nyaman beraktivitas. Tren panggunaan Air Conditioning (AC) kerap mengabaikan kenyamanan karena terlalu dinginnya pengaturan suhu ruangan. Tersedianya fasilitas pengaturan suhu di ruangan yang mudah dijangkau dapat menjadi solusi untuk kenyamanan penghuni gedung. Satu hal lagi adalah mengenai kualitas akustik. Saat ini tata akustik belum menjadi perhatian utama seperti tata udara bagi desainer arsitektural, dengan demikian desainer interiorlah yang perlu memperhatikan kenyamanan penggunanya. Jangan sampai kebisingan menjadi hambatan produktivitas penghuni gedung karena sulitnya berkonsentrasi atau komunikasi yang tidak memadai.

Tanaman hias di dalam ruangan dapat mereduksi polutan udara seperti formaldehida, benzena, dan karbondioksida. Selain itu juga dapat menambah estetika unsur alam di lingkungan kerja sehingga memberikan suasana nyaman dan dapat mengurangi stres. Efek negatifnya adalah udara ruang menjadi lebih lembab dan adanya potensi mikroba serta hama dari media tanam. Untuk mencegah hal tersebut, maka perlu dilakukan pemilihan jenis tanaman yang adaptif untuk suasana interior dan sehat serta memilih media tanam yang tidak menjadi sarang penyakit. Penempatannya juga tidak boleh mengganggu jalur sirkulasi pengguna gedung. Penyediaan tanaman di halaman atau tanaman hias pada balkon akan memberikan keteduhan dan udara segar yang masuk ke ruangan.

Material Ramah Lingkungan

Pemilihan material interior yang ramah lingkungan memerlukan kepedulian yang tinggi dari desainer interior. Dalam hal ini, desainer interior harus jeli menelusuri informasi produk secara lebih dalam. Adapun kriteria produk interior yang ramah lingkungan meliputi kriteria berikut ini: material bekas, material dari sumber terbarukan, material daur ulang, kayu bersertifikat, material dengan proses produksi ramah lingkungan, material prefababrikasi atau material modular, material yang lokasi pabrik dan asal bahan bakunya berada pada skala regional (untuk mengurangi jejak karbon dari proses pengangkutan).

Material interior yang berasal dari sumber terbarukan adalah material yang berasal dari hasil pertanian baik berupa tanaman ataupun hewan dengan masa panen jangka pendek, biasanya maksimum 10 tahun. Sebagian tanaman yang menjadi bahan baku material interior juga merupakan tanaman produktif yang dijadikan sumber pangan. Namun, umumnya bagian yang dapat dimakan tidak digunakan untuk diolah sebagai bahan baku material tersebut. Contoh material terbarukan antara lain: insulasi dari serat kapas, dekorasi dinding atau penutup lantai dari serabut dan tempurung kelapa, penutup lantai dan dinding dari bambu, perabotan dari rotan dan kayu sengon, aksesori lampu dari pangkal tangkai enceng gondok.

Material dengan proses produksi yang mempunyai sistem manajemen lingkungan, umumnya dapat diketahui melalui informasi di website resmi perusahaan atau pada brosur produk. Standar yang biasanya digunakan untuk mengetahui adanya sistem manajemen lingkungan suatu produk antara lain dapat mengacu pada standar nasional seperti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) maupun internasional seperti ISO 14001.

Material prefabrikas merupakan material yang memiliki proses fabrikasi yang dilaksanakan dengan menggunakan alat-alat khusus dimana berbagai jenis material membentuk suatu bagian dari bangunan. Komponen-komponen prefabrikasi tersebut dapat diletakkan pada tempat yang bukan posisinya agar dapat dipindahkan dari pabrik ke lokasi proyek dengan moda transportasi. Sesampainya di lokasi proyek, komponen-komponen tersebut dapat dirakit sesuai dengan posisi yang seharusnya. Penggunaan material prefabrikasi adalah upaya mereduksi sampah proyek ketika proses fit-out sehingga mengurangi beban sampah di tempat pembuangan akhir.

Maraknya informasi mengenai ketersediaan produk material yang ramah lingkungan di pasaran dewasa ini, baik melalui internet maupun media cetak, tentunya akan memudahkan para desainer interior dalam mengimplementasi interior yang ramah lingkungan. Pengetahuan saja rasanya belum cukup untuk mewujudkan desain interior di negara ini. Kepedulian yang didukung oleh komitmen bersama dari para desainer interior merupakan kekuatan penuh untuk menjadi agen perubah dalam memerangi perubahan iklim global melalui desain yang mampu menjaga kesehatan penghuninya dan mencegah kerusakan lingkungan.

Tembakau dan Gedung Ramah Lingkungan

Hingga kini, konsumsi tembakau menjadi polemik di negara kita. Setiap tahun lebih dari 400.000 orang meninggal dunia di Indonesia karena berbagai penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok; atau sekitar 2.000 orang setiap hari1. Asap rokok membunuh satu non-perokok dari setiap 8 orang yang meninggal akibat merokok4. Adapun, peringatan mengenai bahaya kesehatan akibat merokok sudah banyak dilayangkan, antara lain berupa kampaye dari lembaga swadaya masyarakat, iklan layanan masyarakat di media televisi, koran, di kaca belakang bis TransJakarta, hingga di kemasan rokok sekalipun. Namun, tidak juga mengurangi ketidakpedulian dari para perokok yang hingga kini diperkirakan jumlahnya sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia yang mengonsumsi 250 miliar batang rokok per tahun1.

Disisi lain, pemerintah belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau-WHO (WHO Framework Convention on Tobacco Control/WHO FCTC)2 karena menghadapi permasalahan terkait besarnya kontribusi pendapatan negara dari cukai yang dibayarkan perusahaan tembakau. Disamping cukai, pertimbangan yang menjadi komponen industri rokok adalah marjin keuntungan bagi petani tembakau dan cengkeh, pekerja pabrik, kemasan, dan penambahan rasa. Indonesia merupakan satu-satunya anggota WHO yang tidak meratifikasi WHO FCTC.

Harga tembakau di Indonesia tidak mahal, dan tarif pajak juga rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Pajak tembakau di Indonesia berada di bawah rekomendasi Bank Dunia yang menyatakan bahwa pajak tembakau adalah dua pertiga hingga empat perlima dari harga ritel3. Kebijakan ini yang membuat angka kemiskinan semakin jalan ditempat atau bahkan meningkat. Tahun 2005, rumah tangga perokok membelanjakan pengeluaran bulanan untuk tembakau rata-rata 11,5%; angka ini lebih besar dibandingkan untuk belanja ikan, daging, telur dan susu (11%), dan 3,2% untuk biaya pendidikan5. Alokasi pengeluaran rumah tangga untuk produk tembakau yang cukup besar menjadi masalah yang serius bagi kesejahteraan penduduk Indonesia, terutama rumah tangga yang berpendapatan rendah. Dengan alokasi pengeluaran yang lebih tepat kemungkinan besar dapat membantu kesejahteraannya, misalnya porsi belanja untuk produk tembakau digunakan untuk kesehatan, pendidikan dan peningkatan gizi rumah tangga.

Kebijakan terkait Konsumsi Tembakau

Tembakau mengandung zat adiktif dan bersifat karsinogen. Dengan demikian, Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menetapkan bahwa kawasan tanpa rokok antara lain: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum serta tempat lainnya. Khusus bagi tempat kerja, tempat umum dan tempat lainnya dapat menyediakan tempat khusus untuk merokok.

Sebagai lanjutan dari peraturan tersebut, maka pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta mengeluarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 88 tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 Tentang Kawasan Dilarang Merokok. Peraturan tersebut menyatakan bahwa tempat khusus merokok harus memenuhi ketentuan terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung, serta tidak berdekatan dengan pintu keluar masuk gedung.

Implementasi Tempat Khusus Merokok

Peraturan yang dikeluarkan pemerintah daerah menjadi wajib bagi praktisi di sektor bangunan daerah Jakarta untuk mematuhi ketentuan tempat khusus merokok baik untuk gedung kantor maupun gedung komersial. Meskipun peraturan tidak berlaku surut, namun pentingnya kesehatan bagi seluruh pengguna gedung merupakan pertimbangan utama. Artinya, peraturan tersebut akan lebih mudah diterapkan pada gedung-gedung baru, namun menjadi sulit pada gedung yang sudah lama dibangun, apalagi jika gedung terbangun tersebut sudah menyediakan tempat khusus merokok di dalam gedung yang bersangkutan. Alhasil, yang didapati adalah pemandangan orang merokok di area parkir, tangga darurat, toilet, di dalam area gedung terutama pusat perbelanjaan yang tidak terlalu ketat manajemen pengelolaannya, dan kafe yang membolehkan merokok meskipun letaknya di dalam gedung.

Upaya mengurangi jumlah perokok dengan cara menghadapi langsung produsen tembakau akan menjadi sulit karena berhadapan dengan nasib jutaan karyawannya dan penuh pertimbangan ekonomi dan politik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membatasi ruang gerak bagi aktivitas merokok. Dalam hal ini, gedung sebagai lingkungan binaan yang hampir 80% waktu manusia dihabiskan untuk beraktivitas, memiliki peran besar untuk menurunkan jumlah konsumsi tembakau dengan tidak menyediakan kemudahan bagi para perokok untuk mengonsumsi tembakau.

Gedung Tanpa Asap Rokok

 

Bangunan Tanpa Asap Rokok

Bangunan Tanpa Asap Rokok

Salah satu kriteria high performance building (kinerja gedung yang optimal) adalah kualitas udara dalam gedung yang sehat, antara lain dengan tidak menyediakan tempat khusus merokok di dalam gedung dan apabila menyediakan tempat khusus merokok maka tempat tersebut berada di luar gedung agar asap rokok tidak masuk ke gedung melalui pintu, jalusi tempat masuknya udara luar dan bukaan jendela.

Asap rokok selain merugikan kesehatan bagi perokok aktif dan perokok pasif, juga dapat menurunkan estetika ruangan. Coba saja perhatikan abu yang bertebaran, bara rokok yang dapat membolongi perabot interior, dan asap rokok yang melekat pada perabotan dan meninggalkan noda sehingga menurunkan masa pakai perabotan tersebut. Kemudian, terkait dengan sistem ventilasi gedung yang dikondisikan, asap rokok dapat ikut masuk ke return air grille dan bercampur dengan udara luar, lalu setelah mengalami pertukaran panas maka menghembuskan udara yang telah dikondisikan ke ruangan di sebelahnya, dimana udara tersebut sudah tercampur dengan asap rokok. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan pengguna gedung meskipun tidak di ruang yang bersamaan dengan perokok.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan lingkungan udara dalam gedung yang sehat sekaligus mengurangi angka konsumsi tembakau, maka perlu komitmen tinggi dari manajemen puncak gedung untuk melakukan kampanye stop merokok dan membatasi aktivitas merokok. Untuk gedung yang dalam tahap desain, tidak menyediakan ruang khusus merokok berarti mengurangi biaya pemasangan dan pemeliharaan ruang khusus tersebut ketika tahap operasional. Kemudian, pada tahap operasional manajemen gedung menyediakan media kampanye yang berisi mengenai larangan merokok dan himbauan akan bahaya rokok yang diletakkan di tempat strategis. Media tersebut dapat antara lain berupa stiker, poster, atau melalui e-mail. Selanjutnya, manajemen gedung membuat dokumen yang berisi mekanisme tanggap dalam menertibkan pelanggar yang merokok di dalam gedung, misalnya bekerja sama dengan petugas keamanan untuk menegur dan mengarahkan perokok ke tempat yang diperbolehkan merokok.

Turut menjaga udara bersih akan bermanfaat bagi semua orang. Dengan membuat peraturan yang ketat mengenai larangan merokok dan peringatan bahaya merokok di area gedung berarti ikut menyediakan lingkungan udara yang sehat bagi komunitas di sekitarnya dan mengurangi biaya kesehatan serta ikut menjaga kebaikan keluarga dan generasi masa depan dari bahaya merokok.

(.. Diterbitkan di website Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indoesia, 7 Februari 2012..)

Referensi:

1`http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110628_rokok_kesehatan_asyari.shtml

2`http://www.who.int/tobacco/surveillance/policy/country_profile/idn.pdf

3`http://www.tobaccofreecenter.org/files/pdfs/ba/Indonesia_tob_policy_ba.pdf

4 Mathers, C.D., & Loncar, D. (2006). Projections of global mortality and burden of disease from 2002 to 2030. Dalam Barber, S., Adioetomo, S.M., Ahsan, A., & Setyonaluri, D. (2008). Ekonomi tembakau di Indonesia. Paris: Internasional Union Against Tuberculosis adn Lung Disease.

5 Barber, S., Adioetomo, S.M., Ahsan, A., & Setyonaluri, D. (2008). Ekonomi tembakau di Indonesia. Paris: Internasional Union Against Tuberculosis adn Lung Disease.

Risiko Asbestos di Rumah Tinggal

Hotel dan berbagai tempat wisata, banyak yang menawarkan kemewahan dan kepuasan kepada anda. Namun, besar kemungkinan anda akan tetap mengatakan bahwa rumah adalah tempat yang paling nyaman di dunia. Pikiran yang penat dan rasa lelah karena seharian beraktivitas akan terbayarkan dengan melihat keluarga atau suasana di rumah. Dengan demikian, rumah tidak hanya menjadi aset fisik bangunan tetapi juga secara psikologi banyak memberi arti bagi hidup anda.

Namun, pernahkah anda menyadari adanya polutan udara berbahaya di dalam rumah yang dapat menggangu pernapasan atau bahkan hingga penyakit asbestosis? Salah satu polutan udara yang ditemukan di rumah adalah asbestos. Kerap kali dijumpai terutama pada rumah bangunan lama.

Mengenal Asbestos

Mungkin sebagian dari anda ada yang masih ingat permainan tradisional engklek, yaitu melompat menggunakan satu kaki di setiap petak yang sudah digambar di tanah. Berbekal pecahan genteng yang kemudian dilemparkan ke kotak petak. Konon waktu dulu, pecahan genteng ini yang paling bagus lemparannya bukan dari jenis tanah liat, tapi dari remahan genteng jenis asbestos yang biasanya di dapat dari rumah yang sedang di renovasi.

Asbestos merupakan terminologi internasional, biasanya di Indonesia disebut dengan asbes atau istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dipisah-pisahkan hingga menjadi serabut yang fleksibel. Ketika serat ini terlepas di udara, anda tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang. Serat asbestos sangat halus dan ringan sehingga serat dapat berada di udara selama beberapa jam pada saat terlepas dari bahan bangunan, dengan demikian dapat terhirup oleh penghuni di rumah.

Revolusi industri mewakili ledakan besar bagi industri abestos hingga tahun 1970-an. Kemudian tahun 1989, Environmental Protection Agency mengeluarkan aturan larangan dan penghapusan asbestos. Tahun 1990-an beberapa negara memberlakukan larangan produksi terhadap hampir seluruh produk yang mengandung asbestos, antara lain Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Hal ini terkait dengan temuan adanya hubungan antara gangguan kesehatan dengan pajanan asbestos, termasuk asbestosis dan penyakit kanker yang jarang ditemukan yaitu mesothelioma.

Produk Asbestos di Rumah

Di Indonesia, bahan baku asbestos mulai diperkenalkan pada tahun 1959 dan mengalami lonjakan produksi pada tahun 2000. Saat ini, Indonesia masuk dalam posisi 10 besar untuk negara pengguna bahan baku asbestos.

Di rumah, aplikasi asbestos biasanya sebagai bahan bangunan, antara lain seperti asbes untuk atap/genteng, kertas asbes untuk lantai dan atap, cone block, produk isolasi termal, produk akustikal dinding dan langit-langit, serta lembaran semen. Rumah masa kini yang sadar akan bahaya asbestos, biasanya sudah tidak lagi menggunakannya sebagai bahan bangunan. Dengan demikian, biasanya anda dapat jumpai banyak bahan bangunan yang masih mengandung asbestos pada rumah bangunan lama.

Risiko Asbestos

Asbestos yang ada di rumah anda tidak secara langsung menjadi polutan udara yang membahayakan kesehatan. Bahan bangunan dan produk rumah tangga yang mengandung asbestos dalam kondisi baik kemungkinan besar tidak menimbulkan masalah. Asbestos akan berbahaya ketika rusak, pecah, atau berupa bongkaran menjadi serat mikroskopis. Serat ini menjadi berbahaya ketika terhirup, hal ini karena asbestos yang terhirup dalam jumlah tertentu dapat menempel pada paru-paru dan menimbulkan beragam gangguan kesehatan, yaitu gangguan pernapasan, asbestosis (fibrosis yang menimbulkan penebalan dan luka gores pada paru-paru), kanker paru-paru termasuk kanker batang tenggorokan, dan mesothelioma (kanker pada bagian lain saluran pernapasan seperti kanker pleura atau peritoneum).

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 125 juta orang diseluruh dunia sedang terpajan asbes yang terkait dengan kanker paru-paru dan 90.000 orang diantaranya akan meninggal dunia setiap tahun. Ini berarti setiap 5 menit, ada satu orang yang akan meninggal dunia karena penyakit yang berhubungan dengan asbes.

Isu asbestos tidak hanya ditujukan untuk kebaikan penghuni di rumah anda, namun juga ditujukan untuk perhatian terhadap masalah lingkungan secara umum, antara lain: keselamatan pekerja pabrik yang memproduksi material tersebut karena terpajan secara terus menerus oleh polusi zat tersebut. Selain itu, untuk menyelamatkan ekosistem sungai dan laut dari bahaya terpajan asbestos yang kerap limbahnya dibuang ke perairan oleh pabrik-pabrik. Selanjutnya, melalui rantai makanan, ikan di perairan yang terpajan zat tersebut akan dikonsumsi oleh manusia. Pada akhirnya juga akan berbahaya bagi kehidupan secara luas.

Tips Menangani Asbestos

Langkah pertama untuk menghadapi asbes di rumah anda adalah identifikasi seluruh bahan bangunan yang mengandung asbestos. Cara aman untuk menanganinya adalah dengan menyegel atau melapisi bahan bangunan tersebut agar serat atau debu asbestos tidak terlepas ke udara. Untuk melindungi keluarga dari bahaya asbestos yang ada di rumah, maka dapat mempertimbangkan hal berikut ini:

  •  Jauhkan bahan yang mengandung asbestos dari aktivitas dan jangkauan anak-anak.
  •  Beri tanda bahaya adanya bahan asbestos yang rusak agar dapat dijauhi oleh anggota keluarga terutama anak-anak.
  •  Jangan menyapu atau mem-vacum debu asbestos.
  •  Jangan menggergaji atau membor bahan bangunan yang mengandung asbestos.
  •  Jangan menyikat lantai atau bahan yang mengandung asbestos.
  •  Jika tidak dapat menghindari lantai yang terkontaminasi debu asbestos, bersihkan dengan lap basah.

Debu asbestos, tentu akan menjadi masalah ketika anda ingin merenovasi rumah. Oleh karena itu, sebaiknya sudah sejak awal, rumah anda dibangun tanpa menggunakan produk asbestos demi kesehatan keluarga tercinta dan lingkungan di sekitar kita.

Respon Publik terhadap Aplikasi Green Building

Isu mengenai lingkungan hidup nampaknya belum menjadi tren yang hangat di kalangan umum atau mungkin bisa dikatakan bahwa isu ini tidak populer. Orang akan lebih gandrung membicarakan tren gaya hidup, fashion dan kuliner atau hobi yang merupakan topik yang dapat membangkitkan serta memaksimalkan kesenangan diri sendiri. Hanya diri sendiri yang dipertimbangkan, kesenangan sendiri yang coba dipuaskan. Disini, egoisme (selfishness) menjadi sikap ideal. Struktur yang terlibat dalam mekanisme kesenangan adalah konteks prefrontal pada otak kita, yang berperan dalam merencanakan dan memotivasi tindakan mapan. Konteks prefrontal adalah relay yang signifikan dalam sirkuit reward dan juga dimodulasi oleh dopamine.

Dengan demikian, keputusan moral merupakan keputusan yang unik. Ketika kita sedang membuat keputusan moral, sikap egosentris menjadi bumerang. Keputusan moral harus mempertimbangkan orang lain. Kita tidak dapat berlaku rakus dan kasar atau marah tidak karuan untuk menghindari kejahatan dan penjara. Berbuat baik berarti memperhitungkan orang lain, menggunakan otak emosional untuk membaca emosi-emosi orang lain. Egoisme mesti diimbangi dengan altrusime (selflessness).

Konsep reward and punishment adalah hasil kerja nucleus accumbens (NAcc) yang merupakan sirkuit yang sudah terbentuk pada otak primitf manusia. Sirkuit reward NAcc ada pada otak semua mamalia, jadi konsep reward and punishment sudah dikenal oleh otak tikus sekalipun.

Dalam konteks perilaku yang ramah lingkungan, banyak sudah penjelasan akan manfaatnya bagi lingkungan hidup dan untuk generasi mendatang. Reward yang ditawarkan cenderung untuk orang lain dan perlu penjelasan panjang sampai kepada reward yang terkait kepada diri kita sendiri. Sedangkan dalam konteks punishment yang diberikan jika kita tidak melakukan perilaku ramah lingkungan, akan cenderung tidak langsung berdampak kepada diri sendiri seperti ancaman penjara atau keselamatan kita secara langsung. Contoh: mematikan lampu dirumah saat tidak digunakan, jika ditilik dari alasan lingkungannya adalah untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik dan untuk menghemat bahan bakar fosil demi generasi mendatang. Tetapi, seringkali nalar kita tidak langsung menangkap sinyal adanya kesenangan dari alasan tersebut karena secara pribadi hal tersebut tidak memberi keuntungan diri sendiri. Lain halnya jika ditawarkan akan adanya uang yang dihemat jika kita mematikan lampu. Bagi sebagian orang, mungkin akan terasa jika bisa menghemat beberapa puluh atau ratusan ribu dari biaya tagihan listrik bulanan, tapi bagi kaum menengah keatas, maka penghematan tersebut dirasa tidak cukup memuaskan. Hal ini karena tarif listrik di Indonesia masih disubsidi oleh pemerintah, dimana subsidi untuk industri 26,8% atau sebesar Rp. 19,4 triliun, bisnis 6,4% sebesar Rp 4,68 triliun dan pemerintah disubsidi 1,7% sebesar Rp. 1,3 triliun, serta kelompok rumah tangga sekitar 47,2% dari anggaran subsidi.

Di Singapura semua tipe unit residensial dikenakan tarif 25,79 ¢/kWh (setara Rp. 2017/kWh), sedangkan di Indonesia saat ini untuk pelanggan rumah tangga dan bisnis dengan daya 6.600 ke atas membayar tarif Rp. 1.330/kWh. Belum lagi, konsumen yang menggunakan daya dibawah 6.600 VA, tarifnya lebih kecil lagi dan semakin jauh selisihnya dibandingkan dengan tarif listrik Singapura yang tidak memberlakukan subsidi listrik. Tidak terasa beratnya biaya listrik yang kita keluarkan (karena masih disubsidi), maka sulit bagi kita untuk ikut berhemat listrik, karena kalaupun kita berhemat, bisa jadi tidak seberapa jumlahnya.

Pada tahun 2007 hingga tahun 2010, Singapura memberlakukan skema insentif untuk pembangunan bangunan baru yang ramah lingkungan sebesar S$ 20 juta untuk Higher Gross Floor Area. Pada tahun 2006, ada tujuh bangunan baru mendapat sertifikasi GreenMark, kemudian pada tahun 2007-2010, terjadi peningkatan pesat sebesar 127-448 bangunan baru yang telah disertifikasi(a). Para pelaku disektor bangunan terstimulus untuk membuat green building karena adanya reward berupa insentif dan juga penghematan listrik yang signifikan dari performa green building.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah edukasi (antara lain berupa pelatihan GREENSHIP Associate dan GREENSHIP Professional) dapat menggugah dari pemahaman diri pribadi menuju komitmen bersama tanpa adanya reward yang ditawarkan? Atau mungkinkah pemerintah perlu membuat punishment bagi pelaku sektor bangunan yang tidak taat, misalnya berupa hukuman penjara atau denda bagi pelanggarnya (jika pemerintah kurang mampu menawarkan skema insentif)?

Konsep punish and reward (bagi pelaku di sektor bangunan yang melihat keuntungan berperilaku ramah lingkungan dari keuntungan materi berupa hemat uang untuk diri pribadi) berbeda dengan pribadi altruis atau orang yang mampu dan mau berperilaku demi kebaikan orang lain dan generasi mendatang. Dalam perjalanan evolusinya, manusia yang altruis jumlahnya semakin banyak meski tidak sebanyak yang cenderung pada konsep punish and reward.

Beberapa rencana skema penurunan subsidi listrik memang sudah digulirkan, namun realisasi belum juga terjadi. Oleh karena itu, jika negara kita belum mampu menawarkan reward atau punishment untuk kemajuan green building, namun setidaknya mari kita berkaca dan memulainya dari kesadaran diri pribadi.

(.. Diterbitkan di Newsletters atau blog GBCI, 17 Oktober 2012 ..)

Bibliografi:

Sejarah SBS

Setelah membaca beberapa artikel tentang Indoor Environmental di blognya Ian Cull, lalu saya jadi bersemangat untuk mencoba menulisnya di blog ini dalam bahasa Indonesia. Meskipun sekarang ada Google Translate dan saya yakin sudah banyak teman-teman yang mudah memahami teks bahasa Inggris, namun saya tetap mencoba untuk mengemas blog ini dalam bahasa Indonesia. Ini karena pengalaman pribadi saya, yang lebih mudah memahami teks dalam bahasa nasional. Baiklah, mari kita mulai dengan Sick Building Syndrom (SBS) atau yang diterjemahkan dengan sindrom bangunan/ gedung sakit.

Definisi SBS menurut Environmental Protection Agency (EPA) adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung atau bangunan, yang dihubungkan dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak terdapat penyakit atau penyebab khusus yang dapat diidentifikasikan (1). Lalu bagaimana istilah SBS ini bisa muncul?

Tahun lalu, saya presentasi mengenai SBS dengan (hanya bisa) mencuplik sejarahnya dari beberapa tesis, pada bab pendahuluan yang saya temui di internet. Setelah lebih dari setahun kemudian, saya baru menemukan sejarahnya lewat blognya Ian. Wah, sebagai fans isu KUDR, saya jadi bersemangat membacanya.

Perumusan definisi SBS dimulai pada saat pertemuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1982 yang didukung oleh beberapa sumber. Kemudian pada tahun 1983, laporan pertemuan tersebut diterbitkan. Nah, untuk menghapus dahaga bagi yang suka sejarah, berikut disajikan tautan dokumen: Indoor Air Pollutants: exposure and health effects. Klik ikon label PDF  “Texto completo” untuk mengunduhnya. Setelah dokumen dibuka, lalu beranjak ke halaman 23 (pada pdf tertulis halaman 27). Disitu akan ditemukan perspektif sejarah tentang sick building syndrome. Meskipun harus mengunduh dari website Brazil, namun jangan kawatir, sebab teks dokumen tersedia dalam bahasa Inggris.

Selamat membaca!

(1) Indoor Air Fact No.4, Sick Building Syndrome (1991)

Hemat Listrik: Sederhana namun Heroik

Saat ini, energi listrik di negara kita masih mengandalkan sumber daya alam yang sifatnya terbatas seperti batu bara, air, panas bumi dan gas alam. Meskipun penggunaan energi listrik di sektor komersial sebesar 18% dari total penggunaan energi listrik nasional, dimana angka ini terbilang kecil, namun tetap harus diperhatikan mengingat persediaan sumber daya alam yang kian menipis. Gedung komersial yang banyak menggunakan energi, meliputi: perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit. Pada saat beban puncak penggunaan listrik, kerap terjadi pemadaman bergilir karena beban listrik melebihi daya listrik yang dihasilkan pembangkit listrik setempat, dimana imbas pemadaman juga dilimpahkan ke sektor perumahan. Kejadian ini tentunya mengganggu warga untuk beraktivitas. Jika pemakaian listrik pada sektor komersial tidak dihemat, semakin lama energi akan habis dan mengancam masa depan anak cucu kita.

Melihat urgensinya energi listrik pada sektor komersial, kita perlu bijaksana dalam mengonsumsi energi demi kelangsungan hidup saat ini dan generasi yang akan datang. Hemat energi juga berarti mengurangi emisi karbon dan menghemat biaya listrik. Hal ini sejalan dengan gerakan nasional penghematan energi yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mei 2012 silam.

Penghematan energi yang dapat dicapai sebuah bangunan akan berbeda tergantung dari seberapa besar upaya yang dilakukan. Upaya tersebut dibedakan menjadi dua kategori:

  1. Gedung Baru (New Building)

Berdasarkan biaya keseluruhan yang dikeluarkan selama siklus hidup gedung 50 tahun, biaya yang dibutuhkan untuk bangunan baru sebesar 21%, dimana sisanya 79% digunakan untuk biaya operasi dan pemeliharaan gedung. Jadi, penghematan energi pada bangunan penting dilakukan sejak tahap desain dan konstruksi. Gedung baru mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghemat energi dibandingkan gedung yang sudah selesai dibangun. Penerapan SNI yang terkait dengan konservasi energi pada bangunan gedung meliputi selubung bangunan, sistem tata udara dan pencahayaan harus dilakukan sejak tahap desain. Selain itu, juga perlu kerjasama tim, meliputi: pemilik bangunan, arsitek, sipil, mekanikal dan elektrikal, lansekaper, desain interior. Komitmen manajemen untuk menerapkan hemat energi dan integrated green team sangat bermanfaat dalam hal kemudahan koordinasi.

Sistem Tata Udara

Sistem MVAC (Mechanical Ventilation and Air Conditioning) yang meliputi Air Conditioning (AC) dan ventilasi harus efisien dan hemat energi, mengingat gedung komersial paling banyak menghabiskan energi (sekitar 45%-70%) untuk mendinginkan ruangan demi kenyamanan penghuni dengan teknologi AC, antara lain: chillers dan chilled beams. Beban AC dapat berasal dari beban internal yaitu peralatan dan aktivitas penghuni yang menimbulkan panas; dan beban eksternal yaitu panas yang masuk ke dalam bangunan akibat radiasi matahari dan konduksi melalui selubung bangunan. Beban AC berdampak terhadap konsumsi energi listrik gedung.

Selubung Bangunan

Radiasi matahari yang menembus selubung bangunan bisa menembus ke dalam ruangan dan berkontribusi sebesar 54% dari beban AC jika tidak didesain dengan baik. Gedung dengan selubung yang lebih rapat tentunya lebih hemat energi, karena mencegah udara yang mengalir melalui celah bangunan berarti mencegah panas yang dapat menyebabkan beban AC sehingga menghemat energi. Selain itu, juga dapat mempertahankan suhu udara ruang.

Konservasi energi pada selubung bangunan hanya berlaku untuk komponen dinding dan atap pada bangunan gedung yang dikondisikan (memiliki sistem tata udara) serta harus memenuhi syarat yaitu nilai perpindahan termal menyeluruh (Overall Thermal Trasfer Value-OTTV) tidak melebihi 35 W/m2. Untuk memperoleh kriteria desain yang memenuhi syarat tersebut, hendaknya mempertimbangkan perbandingan luas jendela dengan luas seluruh dinding luar (Window Wall Ratio-WWR), orientasi bangunan (arah hadap), jenis, tebal dan warna dinding luar, elemen peneduh, konduktansi kaca, insulasi atap dan dinding, serta perhatikan pemilihan koefisien dari material selubung bangunan berdasarkan atas data rekomendasi dari pabrikan.

Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayan pada sektor komersial lebih kompleks dibandingkan dengan sektor perumahan. Gedung komersial banyak menggunakan cahaya buatan pada tahap operasionalnya untuk berbagai kegiatan, meliputi: penerangan dalam gedung dan luar gedung, penerangan jalanan, dekorasi dan papan reklame. Penerangan utama di area utama dan komersial hendaknya gunakan lampu fluoresen efisiensi tinggi (T5 atau T8) dan gunakan balas elektronik frekuensi tinggi. Gunakan sistem lampu berintensitas tinggi seperti Light Emitting Diode (LED) untuk penerangan luar ruangan. Instalasi penempatan sakelar lampu di tempat yang mudah dijangkau dan mudah dilihat oleh penghuni gedung dapat mendukung perilaku hemat energi. Penjadwalan “on-off” lampu dan Building Automation System (BAS) akan membantu menekan konsumsi energi listrik.

Optimalisasi pemanfataan cahaya alami dengan desain dan pemilihan material glazing yang tepat dapat menghemat sistem pencahaya buatan sebesar 32%. Untuk memaksimalkan cahaya alami yang masuk ke dalam ruang interior, desainer perlu mengevaluasi dampak dari orientasi gedung terhadap kemungkinan opsi potensi cahaya alami dan menyediakan skylight ditambah dengan teknologi yang dapat meneruskan cahaya matahari lebih jauh ke dalam ruangan seperti light shelves, louvers, dan adjustable blind.

  1. Gedung Terbangun (Existing Building)

Perangkat alat dari sistem tata udara dan sistem pencahayaan pada sebuah bangunan gedung semakin lama akan menurun performanya dan berdampak pada borosnya biaya listrik. Sedangkan, di Indonesia sekitar 98% merupakan gedung terbangun. Untuk meningkatkan performa gedung terbangun maka perlu melakukan audit energi agar dapat mengidentifikasi dan menganalisis masalah efisiensi energi pada sistem MVAC dan sistem pencahayaannya. Hasil audit energi digunakan untuk menentukan langkah penghematan yang tepat. Berikut ini langkah penghematan energi yang dapat dilakukan:

Retrofitting

Retrofitting artinya memodifikasi komponen bangunan yang sudah ada dengan menambahkan atau mengganti komponen guna meningkatkan performanya. Dari segi arsitektur, gedung dapat dirombak agar lebih efisien misalnya dengan memanfaatkan cahaya alami, seperti: memperbanyak bukaan dan partisi transparan. Dari segi mekanikal elektrikal, biasanya sistem AC yang tidak efisien menjadi penyebab utama tagihan istrik yang membengkak. Optimasi efisiensi MVAC dengan kalibrasi dan re-commissioning peralatan, tune-up unit AC, cooling tower dan pompa air menjanjikan penghematan biaya listrik bagi operasional perusahaan sebesar 25%-35%.

Penerapan Teknologi Hemat Energi

Penggantian peralatan lama dengan peralatan hemat energi akan membutuhkan investasi yang tergolong menengah dengan potensi penghematan energi sebesar 15%-25%. Penerapan teknologi hemat energi, antara lain: upgrade peralatan kantor seperti komputer, printer, mesin foto kopi dan elektronik lainnya yang hemat energi. Hendaknya gunakan peralatan yang sesuai standar dan labeling efisien energi dari Pemerintah.

Lampu yang sudah lama digunakan, lumennya akan menurun, sementara listrik yang digunakan tidak ikut turun sehingga tidak lagi efisien dan membuat listrik jadi boros. Penghematannya dapat menggunakan lampu hemat energi. Lampu T5 yang dikombinasikan dengan balas elektronik frekuensi tinggi dapat menghemat energi sampai dengan 40% dibandingkan dengan lampu fluoresen standar.

Perilaku Hemat Energi

Penghematan energi akan lebih efisien jika melibatkan seluruh penghuni gedung untuk memahami dan melakukan perilaku hemat energi secara bersama-sama. Hal yang paling utama adalah adanya komitmen dari manajemen tertinggi yang mau mendukung gerakan ini, sehingga lebih mudah menerapkannya ke dalam program manajemen energi, seperti pelatihan mengenai cara penghematan energi kepada karyawan .

Untuk melibatkan penghuni gedung, manajemen gedung hendaknya menghimbau seluruh penghuni gedung atau membuat kampanye hemat energi yang diletakkan pada tempat yang strategis. Praktik hemat energi perlu dibiasakan, seperti mematikan lampu ruangan jika tidak digunakan, mencabut kabel listrik dari stop kontak ketika elektronik tidak lagi digunakan, dan menyetel pendingin ruangan 25oC. Cara ini merupakan investasi dengan biaya rendah namun tetap berpotensi menghemat energi sebesar 7%-11%.

Tentunya kita tidak ingin melihat masa depan anak cucu kita suram karena pasokan listrik tidak dapat menopang aktivitas hidup mereka lagi. Nah, marilah kita mulai menghemat listrik saat ini, lakukan dari hal yang mudah di kantor atau di rumah kita, seperti perilaku hemat energi. Ajak juga keluarga dan kerabat untuk melakukannya, hal yang tidak sulit namun akan berdampak besar terhadap lingkungan dan juga demi generasi selanjutnya. Perilaku hemat energi adalah hal yang sederhana namun heroik.

Pengenalan KUDR #3

Bagaimana menjaga kualitas udara ruang tetap bersih ?

Strategi untuk menciptakan kualitas udara yang baik, yaitu:

> Sumber Polutan

Biasanya, cara paling efektif untuk mempertahankan kualitas udara ruang adalah dengan menghilangkan sumber polutan atau mengurangi emisinya. Beberapa sumber polutan, contoh (a) asbestos, bisa disimpan pada ruangan tertutup atau dibungkus rapat; (b) asap tungku berupa emisi gas dapat diatur dengan mengurangi aktivitas memasak.

Mengendalikan sumber polutan merupakan pendekatan yang paling efisien untuk menjaga kualitas udara ruang dibandingkan dengan menambah jumlah udara ventilasi karena penambahan udara ventilasi akan menambah biaya listrik.

> Memperbaiki Ventilasi

Beberapa rumah yang dilengkapi dengan sistem pendingin, maka udara tidak secara mekanik masuk ke dalam rumah. Udara masuk ke ruangan melalui jendela atau pintu yang dibuka atau melalui AC window saat kontrol ventilasi dibuka. Selain itu juga, tingkat udara ventilasi meningkat ketika kipas exhaust di kamar mandi dan dapur beroperasi.

Memasukkan udara segar ke dalam rumah merupakan hal penting dan perlu diperhatikan ketika kita sedang melakukan kegiatan rumah tangga, seperti: mengecat, memasak di tungku atau kompor minyak tanah. Atau ketika kita sedang melakukan hobi atau pekerjaan, seperti: mengelas, mematri, mengamplas. Untuk aktivitas tersebut, lebih baik anda lakukan di luar rumah terutama jika cuaca mendukung.

> Pembersih Udara

Ada beragam jenis dan ukuran alat pembersih udara di pasaran, dengan harga yang juga bervariasi. Alat tersebut, ada yang sangat efektif untuk menghilangkan partikel, namun ada juga yang kurang efektif. Alat pembersih udara biasanya tidak dirancang untuk menghilangkan polutan berupa gas.

Efektivitas alat pembersih udara tergantung dari seberapa canggih alat tersebut mengumpulkan polutan dari udara ruang (dinyatakan dalam persentase tingkat efisiensi) dan berapa banyak udara yang dapat disaring (dinyatakan dalam meter kubik per menit). Pembersih yang mampu menyaring dengan baik namun tidak mampu mensirkulasika udara ruang maka bukan alat pembersih ruang yang efektif, demikian pula apabila alat tersebut mampu mensirkulasikan udara dengan baik tetapi tidak cukup baik dalam menyaringnya. Lamanya performa alat pembersih tergantung dari perawatan yang dilakukan sesuai dengan petunjuk pabrik.

Beberapa penelitian menunjukkan tanaman dalam ruang dapat menurunkan polutan dalam skala laboratorium. Hingga saat ini untuk aplikasi nyata belum terbukti, namun ada juga penelitian yang menunjukkan beberapa tanaman dalam ruang yang dapat mengurangi polutan. Tanaman dalam ruangan tidak boleh disiram secara berlebihan karena akan melembabkan tanah, dimana tanah yang terlalu lembab merupakan media bagi perkembangbiakan mikroorganisme yang dapat menstimulasi alergi bagi penghuni rumah.

(Sumber tulisan : (US)EPA IAQ — lihat daftar Blogroll)

Pengenalan KUDR #2

Apakah polusi udara di dalam rumah dapat membahayakan kesehatan?

Dampak terhadap gangguan kesehatan dapat terjadi secara langsung setelah penghuni terpajan (terkena) polutan atau mungkin beberapa tahun kemudian.

Pengaruh langsung

Pengaruhnya langsung terhadap kesehatan terjadi karena kita terekspos polutan sekali atau berulang-ulang, kemudian muncul gejala seperti mata perih, iritasi hidung dan tenggorokan, sakit kepala, pusing, dan lelah. Gejala tersebut biasanya dialami sebentar dan dapat disembuhkan. Biasanya cara penyembuhannya mudah yaitu jika dapat menemukan sumber polutan maka kurangi jumlah polutan atau jauhkan orang yang terpajan dari sumber polutan. Bagi yang memiliki asma dan hipersensitif, maka gejala ini muncul secara langsung ketika terekspos beberapa polutan udara.

Reaksi setiap orang apabila terpajan polutan udara ruang secara langsung tidak selalu sama, tetapi tergantung dari beberapa faktor. Faktor umur dan kondisi medis seseorang merupakan dua hal penting yang berpengaruh. Selain itu, tingkat sensitivitas seseorang terhadap polutan udara ruang juga berbeda-beda. Ada yang sangat sensitif terhadap polutan biologis, ada juga yang sensitif akan zat-zat kimia tertentu.

Efek langsung terhadap kesehatan umumnya serupa, dari mulai batuk sampai beragam penyakit virus, sehingga sulit untuk menentukan apakah suatu gejala merupakan akibat dari menghirup polutan udara ruangan. Untuk alasan ini, penting untk memperhatikan waktu dan tempat dimana gejala penyakit tersebut muncul. Jika gejala menghilang setelah orang tersebut jauh dirumah, maka sebaiknya lakukan identifikasi sumber polutan udara ruang yang mungkin menjadi penyebabnya. Beberapa efek penyakit bisa jadi menjadi lebih buruk jika tidak ada sirkulasi udara dengan baik.

Pengaruh Tidak Langsung

Secara tidak langsung, efeknya bisa muncul beberapa tahun kemudian setelah kita terpajan polutan secara berulang-ulang selama periode waktu tertentu. Penyakit yang muncul meliputi: penyakit pernapasan, penyakit jantung, dan kanker, dimana penyakit yang diderita sangat berbahaya dan fatal. Dengan demikian, alangkah lebih baik jika kita mulai memperhatikan dan menjaga kualitas udara ruangan dirumah agar tetap sehat meskipun belum melihat adanya gejala-gejala penyakit yang muncul.

Seringkali polutan udara dalam ruang berdampak negatif terhadap kesehatan kita, namun perlu kita perhatikan bahwa banyaknya kadar polutan dan berapa kali kita terpajan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang spesifik. Setiap orang memiliki tingkat kepekaan yang berbeda-beda, dengan demikian setiap orang mungkin tidak akan sama ketika berekasi dengan polutan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak apa yang ditimbulkan setelah kita terpajan polutan pada kadar tertentu yang ditemukan di rumah kita dan berapa kadar tertinggi yang terjadi dalam waktu yang singkat.

Bagaimana menjaga kualitas udara ruang tetap bersih?

(Sumber tulisan : (US)EPA IAQ  & Real Estate Blog (sumber gambar)– lihat daftar Blogroll)

Cuplikan tentang Biomimicry

Istilah biomimicry sudah muncul sejak awal tahun 1982, kemudian pada tahun 1997 istilah tersebut dipopulerkan oleh Janine Benyus lewat bukunya yaitu “Biomimicry: Innovation Inspired by Nature”. Biomimicry adalah mempelajari alam disekitar dan menjadikannya inspirasi serta meniru model dan proses dari alam untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Tujuannya adalah keberlanjutan, dimana Benyus mengajak kita untuk melihat alam sebagai “model, ukuran, dan mentor”.

Makhluk hidup beradaptasi dari perubahan alam yang terjadi disekitarnya untuk bertahan hidup dan mempertahankan eksistensinya. Model adaptasi yang dilakukan sangat bervariasi dan unik, dengan tujuan dan fungsi tertentu. Pada awalnya manusia menggunakan peralatan seadanya, untuk berburu dan mencari makan serta tempat tinggal. Kemudian, perkembangan iptek dengan trial dan eror menciptakan beragam perangkat pendukung kehidupan manusia. Disisi lain, ekosistem telah menjalani berbagai model adaptasi sejak 3,8 miliar tahun yang lalu. Alam telah melakukan berbagai hal yang menakjubkan sejak dulu, misalnya: kerang yang menyerap polutan hingga mampu menjernihkan air, dimana hal ini diketahui melalui riset di dalam ilmu biologi. Berbagai hal yang menarik dapat ditemukan di bidang biologi, di lain sisi, bisnis selalu menuntut iptek menelurkan inovasi yang sesuai dengan tantangan zaman. Sedangkan, sering kita jumpai, kedua hal itu (biologi dan bisnis) jarang berjalan beriringan.

Melihat keunikan model, sistem, proses dan unsur yang berasal dari alam disekeliling kita, maka bisa diambil pelajaran dan diaplikasikannya sebagai kreativitas dan inovasi baru. Biomimicry dapat diimplementasikan dalam berbagai hal, antara lain: desain produk, interior, dan arsitektural.

“Sustainable world is already exist, its all around us” (Benyus).