Kenyamanan Suhu, Listrik dan Lingkungan

Akhir-akhir ini, cuaca mengalami anomali. Kadang kita akan merasa kepanasan karena teriknya matahari, tapi tak jarang hujan membuat ruangan menjadi sangat dingin. Untuk kenyamanan dalam beraktivitas, maka masalah panas di dalam ruangan akan diatasi dengan pengkondisian udara atau air conditioning (AC) yang sudah umum dilakukan baik diperkantoran ataupun perumahan. Sedangkan dalam mengatasi ruangan yang dingin, biasanya cukup mematikan AC. Namun, untuk gedung-gedung komersial seperti perkantoran, mall, hotel dan rumah sakit yang menggunakan AC sentral sehingga tak bisa dilakukan pengaturan pendingin ruangan secara manual atau individu, maka yang terjadi yaitu adanya adaptasi perilaku dengan cara memakai jaket atau menghindari hembusan sumber dingin dari diffuser. Mengatasi kedingininan di negara tropis berbeda dengan di negara 4 musim. Adanya musim dingin dapat diatasi dengan pemanas ruangan sehingga kondisi udara ruangan menjadi lebih hangat dibandingkan luar ruangan.

Udara yang dingin di dalam ruangan bukan hanya sekedar isu kenyamanan bagi penghuni, tetapi terkait dengan pemakaian energi listrik dan lingkungan. Hal ini karena pengkondisian udara baik itu pendingin ruangan atau pemanas ruangan memerlukan listrik dalam pengoperasian AC. Berikut ini yang terkait dengan kenyamanan suhu udara ruang, antara lain:

Biaya tagihan listrik berarti uang. Bagi pemilik gedung, konsumsi listrik dapat dilihat dari besarnya biaya tagihan PLN (Perusahaan Listrik Negara) setiap bulannya. Semakin sering menggunakan AC ruang, semakin besar biaya yang dikeluarkan.

Jejak ekologis. Sumber listrik dari PLN menggunakan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Batubara yang digunakan berasal dari eksplorasi kawasan (hutan) yang mengandung batu bara. Pertambangan ini mengubah bentang alam yang dapat mengganggu harmonisasi ekosistem di lahan tsb yang terdiri atas berbagai makhluk hidup seperti tanaman, serangga, mamalia dan berbagai jenis burung. Pembukaan lahan hutan tanpa dilakukan reboisasi dapat menghilangkan jejak ekologis sehingga mengurangi biodiversitas dan keseimbangan rantai makanan.

Banjir dan erosi. Adanya pertambangan konvensional sering meninggalkan bekas lahan tambang tanpa dilakukan rehabilitasi lahan terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan lahan menjadi rentan terhadap banjir dan erosi karena tidak ada lagi akar tanaman yang mampu mengikat air dan zat hara tanah. Porositas tanah terganggu sehingga terjadi water run off tanpa diserap oleh tanah. Air dari dataran tinggi yang menyapu lahan kedataran lebih rendah, membawa sedimen yang dapat terangkut sehingga kerap terjadi banjir beserta lumpur disepanjang bantaran sungai yang meluap.

Jejak karbon. Proses produksi pada pembangkit tenaga listrik akan mengeluarkan hasil samping berupa zat pencemar ke udara dalam jumlah yang relatif besar, antara lain karbon dioksida. Pelepasan karbon keudara diduga sebagai kontributor terjadinya efek rumah kaca sehingga kondisi cuaca saat ini sering tidak dapat diprediksi.

Perlu diketahui bahwa mendinginkan 1oC udara ruang memerlukan konsumsi energi sebesar 10%. Sebagai gambaran, penelitian Karyono (2001) menunjukkan sekitar 95% dari 596 karyawan di beberapa bangunan tinggi di Jakarta merasa nyaman pada suhu ruang 26,4oC. Menurut Standar Nasional Indonesia 03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung bahwa zona kenyamanan termal orang Indonesia untuk perancangan ruangan umumnya 25oC ± 1oC.

Namun, seringkali kita menyesuaikan thermostat pada pendingin ruangan hingga dibawah 23oC sehingga dapat dihitung berapa persen kenaikan energi listrik yang dibutuhkan, batubara yang digunakan, ekosistem yang dihilangkan, dan jejak karbon yang ditinggalkan. Masalahnya, seringkali kita terlalu berlebihan dengan kenyaman termal, bahkan adanya persepsi semakin dingin semakin modern akan meningkatkan pemakaian energi listrik. Padahal jika kita menghemat 1oC maka kita akan menghemat pemakaian energi listrik sebesar 10%. Hal ini berarti menghemat biaya, mengurangi jejak ekologi dan jejak karbon. Jadi… mari kita selamatkan bumi dengan pendingin ruangan yang tidak berlebihan.

Bibliografi:

Karyono, T.H. 2001. Penelitian Kenyamanan Termis di Jakarta Sebagai Acuan Suhu Nyaman Manusia Indonesia. Jurnal Dimensi teknik Arsitektur Vol. 29, No.1, Juli 2001: 24-33.

http://www.50waystohelp.com/ 10/10/2010; 10.00 wib

4 responses

    1. Terima kasih Santi🙂

  1. Posting yang bagus, apalagi kalau diperkaya dengan sedikit data-data untuk mengilustrasikannya. Misal, apa efeknya kalau kita menaikkan setting AC sebesar 1 derajat Celcius? Tagihan listrik naik x%, emisi CO2 naik y%, dan seterusnya.
    Terima kasih sudah berbagi.

  2. Terima kasih atas masukannya. Saya akan coba eksplorasi lebih jauh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: