Kampanye Stop Merokok

Environment Tobacco Smoke (lingkungan asap temabakau) mengandung lebih dari 4.000 zat kimia. Potensi kandungan asap rokok yang bersifat karsinogenik terdapat lebih dari 40 jenis, yang antara lain:  4-aminobiphenyl, 2-naphthylamine, benzene, nickel, dan beragam Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan N-nitrosamines. Senyawa yang bersifat iritasi, antara lain:  ammonia, nitrogen oksida, sulfur dioksida dan ragam aldehydes, sedangkan yang beracun untuk cardiovaskular, antara lain karbon monoksida (CO), nikotin dan beberapa PAHs. Kandungan nikotin dan karbon monoksida (CO) pada asap rokok mampu mengikat haemoglobin lebih cepat dibandingkan dengan oksigen sehingga menjadi penyebab penyakit jantung. Paparan terhadap asap rokok menimbulkan resiko kesehatan baik bagi perokok aktif maupun bagi perokok pasif antar lain: kanker paru-paru, iritasi mata dan saluran pernapasan, bronkitis, asma, sudden infant death syndrome (sindroma kematian bayi mendadak) dan hipoksia janin (WHO, 2000).

Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan memberlakukan adanya larangan merokok di masjid, sarana kesehatan, pendidikan umum, area aktivitas umum, dan angkutan umum. Namun pada implementasinya, larangan tersebut sering diabaikan sehingga perokok pasif tetap berisiko mengidap kanker dari lingkungan asap rokok. Contohnya antara lain kerap kita jumpai di gedung-gedung komersial seperti mall dan pusat perbelanjaan, himbauan adanya larangan merokok di dalam gedung tidak ditaati oleh para pengunjung. Asap rokok mengepul di ruangan dengan pendingin udara. Zat berbahaya dari asap tsb akan terus mengikuti sirkulasi udara ruang sehingga membahayakan bagi seluruh penghuni gedung.

Oleh karena itu kampanye untuk tidak merokok adalah upaya sosialisasi bagi pemerhati akan bahaya rokok terhadap masyarakat umum. Sasaran utama adalah para perokok aktif agar berhenti merokok, sasaran kedua adalah bagi para perokok pasif untuk turut berpartisipasi dalam rangka mengajak perokok aktif untuk berhenti merokok. Integrasi peran aktif masyarakat dalam melakukan kampanye diharapkan dapat menimbulkan kesadaran masyarakat umum akan pentingnya udara bebas dari asap rokok.

Pada gedung-gedung, mekanisme kampanye dapat dilakukan dengan melibatkan pihak manajemen bangunan. Dimulai dari pemilik atau pengelola gedung sebagai top manajemen untuk membuat dan menerapkan kebijakan larangan merokok di dalam gedung kepada seluruh penghuninya. Selajutnya, pemasangan tanda ‘Stop Merokok’  dan ‘Dilarang merokok’ di beberapa titik gedung. Sistem tanggap dalam mengantisipi adanya pelanggaran dapat di serahkan kepada bagian keamanan atau bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan cara mencatat dan menegur atau memberi sanksi sosial dan material kepada si pelanggar.

Kampanye stop merokok merupakan bentuk upaya kolektif dari masyarakat yang dimaksudkan untuk mengajak kepada para perokok agar berhenti merokok. Usaha membangkitkan kesadaran kepada individu perokok memang tidak mudah, karena dampak negatif dari merokok terkadang tidak langsung dirasakan. Namun, konsistensi kampanye ini atas dukungan segenap masyarakat yang peduli dengan kesehatan dan udara bersih dapat memberi celah untuk mengurangi lingkungan asap rokok di kawasan publik.

Bibliografi

WHO. (2002). Environmental Tobacco Smoke. Regional Office for Europe. Kopenhagen, Denmark.  http://www.euro.who.int/document/aiq/8_1ets.pdf 14/04/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: