Gedung Tak Sehat Turunkan Produktivitas

Jakarta, Kompas – Kondisi gedung yang tidak sehat berpotensi menurunkan produktivitas perusahaan hingga 10 persen. Sebaliknya, gedung yang sehat bisa memberikan keuntungan ekonomi.

Hal itu terungkap dalam seminar bertajuk ”Sick Building Syndrome: Is Your Office Killing You?” yang diselenggarakan Konsil Bangunan Hijau Indonesia (KBHI), Kamis (24/2) di Jakarta. Pemahaman akan ”bangunan hijau” di antaranya memasukkan faktor kesehatan bangunan.

Produktivitas akan turun jika karyawan sering absen karena sakit akibat gedung yang tidak sehat. Gangguan kesehatan akibat kondisi gedung yang tak sehat disebut sindrom gedung sakit (sick building syndrome/SBS). Adapun penyakit permanen akibat kondisi gedung yang tak sehat disebut building related illness.

Salah satu narasumber, Yanu Aryani, analis peringkat dari KBHI, menyebutkan, terkait produktivitas, gedung yang sehat akan memperbaiki kondisi kesehatan karyawan secara umum dan meningkatkan motivasi karyawan. ”Dengan kondisi demikian, kinerja karyawan akan meningkat, mengurangi absen karyawan, dan mengurangi biaya jaminan kesehatan. Hal tersebut akan menghasilkan keuntungan ekonomi bagi perusahaan,” kata Yanu.

Kondisi SBS, Yanu menambahkan, terkait tiga hal, yaitu pengaturan masuknya udara luar, pemilihan material yang rendah senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compound) termasuk formaldehida, serta pemeliharaan kebersihan saluran ventilasi udara.

Udara segar dari luar gedung dibutuhkan untuk mengurangi konsentrasi pencemar dalam gedung. Namun, udara segar yang terlalu banyak akan membebani mesin pendingin sehingga meningkatkan konsumsi energi.

Terkait material yang sehat, bisa digunakan material yang sesuai dengan standar kesehatan yang telah ditetapkan. Adapun pemeliharaan kebersihan saluran ventilasi udara dibutuhkan karena debu merupakan media bagi bakteri dan mikroba yang potensial disebarkan ke dalam bangunan.

Legionelosis

Narasumber lain, dr Faisal Yatim, mantan peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, mengatakan, salah satu penyakit akibat gedung tidak sehat adalah legionelosis yang bisa mengakibatkan kematian.

Legionelosis, penyakit akibat dari gedung tidak sehat, pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1976. ”Dilaporkan ada 182 penderita pneumonia dan 29 orang di antaranya meninggal dunia,” katanya. Di Indonesia, penyakit itu ditemukan tahun 1996 di Bali dan tahun 1999 di Tangerang.

Penyakit itu disebabkan oleh bakteri Legionella. Gejalanya mulai dari gejala ringan, seperti flu biasa, sampai yang berat, seperti pneumonia (radang paru).

”Bakteri tersebut bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium khusus,” ujarnya. Gejala legionelosis adalah rasa lesu, sakit kepala, tenggorokan kering, mata berair, sering bersin, hingga serangan asmatis. (ISW)

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2011/02/25/03443536/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: