Konsumerisme dan Hari Bumi

Teringat kuliah umum yang disampaikan Prof.Emil Salim tadi malam dalam penutupan memperingati Hari Bumi di Freedom Institut. Beliau mengatakan bahwa masyarakat harus dapat membedakan want (keinginan) dan need (kebutuhan). Fenomena yang terjadi, banyak sekali yang datang ke pusat perbelanjaan kemudian membeli barang yang hanya sekedar mereka suka tetapi bukan menjadi kebutuhan. Inilah pola konsumtif yang terjadi di ibukota. Berbeda dengan sebuah penduduk desa, yang menabung dengan cara arisan, hanya untuk mendapat giliran memiliki sebuah kakus di rumahnya. Potret ironi bangsa kita. Demikian sekilas yang disampaikan beliau.

Sayangnya, konsumerisme memang sudah menjalar di segala lini masyarakat. Hal ini antara lain karena mudahnya membeli barang murah terutama produk impor yang diperoleh akibat dibukanya arus perdagangan bebas ASEAN dan China pada Januari 2010. Selain itu, iming-iming sebuah produk melalui iklan yang menjanjikan membuat konsumen tergiur untuk mengalami khasiat dari produk tersebut, misalnya produk kosmetik dan perawatan tubuh. Keputusan kita untuk membeli suatu produk tergantung dari preferensi otak masing-masing.

Gambaran terhadap pencitraan otak konsumen muncul dari bidang ilmu baru yaitu neuroekonomi. Pada saat produk mampu memberi kesan baik, membangkitkan lebih banyak reaksi di orbitofrontal otak (zona syaraf yang menghubungkan pikiran dengan perasaan), menandakan ketertarikan yang positif. Peningkatan ini mengindikasikan sinyal syaraf untuk preferensi merek. Model kognitif atau ekspektasi kita menentukan aktivitas syaraf.

Sedangkan, ketika sebuah produk gagal memberi kesan baik atau membuat kita menolak, otak menunjukkan penurunan aktivitas pada bagian korteks orbitofrontal. Penurunan aktivitas otak yang sama terjadi ketika kita mengalami kerugian, entah ketika berjudi atau berdagang. Jika kerugian itu membuat kita marah, kekecewaan pun mengusik amigdala, yang menanamkan rasa takut dan rasa ingin menghindar, serta insula, yang salah satunya berkaitan dengan rasa jijik. Salah satu emosi yang paling kuat adalah rasa jijik, reaksi yang sangat vital bagi keberlangsungan spesies apapun. Alam telah menanamkan pada otak setiap mamalia mengenali bau, rasa, dan rupa segala hal yang beracun atau memuakkan. Lebih baik mendapat sesuatu yang mencurigakan dan mungkin berbahaya yang menimbulkan reaksi jijik yang spontan daripada memakan apa saja yang kita temui. Rancangan yang dapat menyelamatkan jiwa ini telah bermetamorfosis melampaui hal-hal yang mungkin kita makan sampai segala hal yang kita dapat persepsikan. Misalnya ketika membeli produk pemutih wajah, kemudian hembusan isu terhadap kadar merkuri yang dapat menyebabkan kanker menjadikan kita berhenti menggunakannya. Hal ini karena deaktifasi orbitofrontal dan mengusik amigdala. Jika kita memiliki rasa tidak suka akan suatu produk, sedangkan kita sedang memilih suatu produk, maka yang terjadi adalah efek kontras, dimana kita akan menyukai produk yang lebih baik, karena yang lain terlihat lebih buruk. Efek kontras ini telah diketahui tenaga pemasaran, untuk menunjukkan kepada konsumen bahwa produknya lebih baik, maka tunjukkan kepada calon pembeli produk yang lebih jelek. Lihat saja periklanan kita, tidak sedikit iklan produk  yang menjatuhkan kompetitor dengan menonjolkan kejelekannya.

Isyarat kognitif mengalahkan pengalaman sesungguhnya. Informasi yang kita miliki tentang sebuah produk merupakan isyarat yang sangat kuat. Misalnya: anda dihadapkan pada dua batang coklat yang sama, kemudian coklat pertama diberitahukan berasal dari Jawa, dan coklat kedua berasal dari Swiss. Maka reaksi yang mengatakan enak akan banyak muncul pada coklat kedua, padahal keduanya berasal dari coklat yang sama. Begitupun ketika saya dibelikan oleh-oleh sepatu dari Malaysia. Awalnya saya biasa-biasa saja, kemudian baru merasakan nyaman dan percaya diri memakai sepatu tersebut, ketika seorang teman mengatakan bahwa sepatu yang saya gunakan adalah merek ternama di Malaysia. Seketika pengalaman (kesan) saya terhadap sepatu tersebut berubah karena informasi baru.

Membeli produk tas dan pakaian bermerek palsu dengan kualitas jauh dibawah merek asli, menjadi pilihan dalam memaksimalkan penampilan kita sehari-hari, padahal dibalik produk tersebut ada harga yang dibayar murah untuk buruh anak atau lingkungan kerja yang tidak aman bagi kesehatan buruh miskin, ditambah lagi dampak lingkungan karena limbah yang dihasilkan dan jejak karbon untuk polusi udara yang dihasilkan dari pengangkutan produk impor tersebut. Masyarakat cenderung mengabaikan pertimbangan terhadap dampak lingkungan yang terjadi ketika dihadapkan pada sebuah keadaan untuk memutuskan membeli sebuah produk.

Kecenderungan melihat manfaat langsung terhadap diri sendiri dalam jangka pendek menjadi pertimbangan utama dalam keputusannya. Selain karena dampak lingkungan tidak dirasakan ketika kita memakai produk tersebut, kemampuan kantong kita pun tidak mendukung untuk rela memilih produk yang lebih mahal namun lebih bermanfaat bagi sipembeli dan aman untuk lingkungan. Hal ini karena kita telah terprogram untuk berfokus pada manfaat jangka pendek dengan mengorbankan manfaat jangka panjang yang jauh lebih besar. Untungnya bagi manusia, kebiasaan buruk tersebut masih bisa dirubah, setidaknya secara teoretis. Bagian-bagian baru dari otak kita, seperti lobus frontal, dapat mematikan perilaku berdasarkan insting. Walaupun perusahaan-perusahaan dapat terus memberikan jaminan mengenai keamanan produknya, namun konsumen yang peduli akan beralih ke produk pesaing yang mereka rasa lebih aman.

Hambatan yang sering terjadi adalah sebuah produk lebih menonjolkan satu kelebihannya dan menutupi kekurangannya terlebih dalam komposisi yang berbahaya dan penanganan lingkungannya. Data yang yang disediakan untuk konsumen sangat terbatas. Meskipun demikian, saya optimis karena semakin canggihnya masyarakat kita saat ini dalam mengakses segala informasi terutama tentang produk yang akan dikonsumsinya, dapat mengurangi kebiasaan membeli barang yang tidak aman baik bagi diri sendiri maupun lingkungan. Perlahan-lahan kecerdasan ekologis dapat meningkat apabila kita terusik untuk mengungkap rahasia di balik produk yang kita beli. Mungkin tidak terwujud sekarang, tadi butuh beberapa dekade, karena satu hal yang kita harus tanamkan bahwa bumi bukan hanya milik kita, tetapi milik anak kita, cucu kita, generasi yang akan datang. Selamat Hari Bumi !!

Sumber:

Goleman D. 2009. Kecerdasan Ekologis (Mengungkap Rahasia di Balik Produk-produk yang Kita Beli. Gramedia. Jakarta.

2 responses

  1. “Gunakan alam sesuai kebutuhan, bukan keinginan”..geto katanya teeehhh

    1. Betul banget neng… hehe.. nonton jugakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: