Hemat Listrik: Sederhana namun Heroik

Saat ini, energi listrik di negara kita masih mengandalkan sumber daya alam yang sifatnya terbatas seperti batu bara, air, panas bumi dan gas alam. Meskipun penggunaan energi listrik di sektor komersial sebesar 18% dari total penggunaan energi listrik nasional, dimana angka ini terbilang kecil, namun tetap harus diperhatikan mengingat persediaan sumber daya alam yang kian menipis. Gedung komersial yang banyak menggunakan energi, meliputi: perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit. Pada saat beban puncak penggunaan listrik, kerap terjadi pemadaman bergilir karena beban listrik melebihi daya listrik yang dihasilkan pembangkit listrik setempat, dimana imbas pemadaman juga dilimpahkan ke sektor perumahan. Kejadian ini tentunya mengganggu warga untuk beraktivitas. Jika pemakaian listrik pada sektor komersial tidak dihemat, semakin lama energi akan habis dan mengancam masa depan anak cucu kita.

Melihat urgensinya energi listrik pada sektor komersial, kita perlu bijaksana dalam mengonsumsi energi demi kelangsungan hidup saat ini dan generasi yang akan datang. Hemat energi juga berarti mengurangi emisi karbon dan menghemat biaya listrik. Hal ini sejalan dengan gerakan nasional penghematan energi yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mei 2012 silam.

Penghematan energi yang dapat dicapai sebuah bangunan akan berbeda tergantung dari seberapa besar upaya yang dilakukan. Upaya tersebut dibedakan menjadi dua kategori:

  1. Gedung Baru (New Building)

Berdasarkan biaya keseluruhan yang dikeluarkan selama siklus hidup gedung 50 tahun, biaya yang dibutuhkan untuk bangunan baru sebesar 21%, dimana sisanya 79% digunakan untuk biaya operasi dan pemeliharaan gedung. Jadi, penghematan energi pada bangunan penting dilakukan sejak tahap desain dan konstruksi. Gedung baru mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghemat energi dibandingkan gedung yang sudah selesai dibangun. Penerapan SNI yang terkait dengan konservasi energi pada bangunan gedung meliputi selubung bangunan, sistem tata udara dan pencahayaan harus dilakukan sejak tahap desain. Selain itu, juga perlu kerjasama tim, meliputi: pemilik bangunan, arsitek, sipil, mekanikal dan elektrikal, lansekaper, desain interior. Komitmen manajemen untuk menerapkan hemat energi dan integrated green team sangat bermanfaat dalam hal kemudahan koordinasi.

Sistem Tata Udara

Sistem MVAC (Mechanical Ventilation and Air Conditioning) yang meliputi Air Conditioning (AC) dan ventilasi harus efisien dan hemat energi, mengingat gedung komersial paling banyak menghabiskan energi (sekitar 45%-70%) untuk mendinginkan ruangan demi kenyamanan penghuni dengan teknologi AC, antara lain: chillers dan chilled beams. Beban AC dapat berasal dari beban internal yaitu peralatan dan aktivitas penghuni yang menimbulkan panas; dan beban eksternal yaitu panas yang masuk ke dalam bangunan akibat radiasi matahari dan konduksi melalui selubung bangunan. Beban AC berdampak terhadap konsumsi energi listrik gedung.

Selubung Bangunan

Radiasi matahari yang menembus selubung bangunan bisa menembus ke dalam ruangan dan berkontribusi sebesar 54% dari beban AC jika tidak didesain dengan baik. Gedung dengan selubung yang lebih rapat tentunya lebih hemat energi, karena mencegah udara yang mengalir melalui celah bangunan berarti mencegah panas yang dapat menyebabkan beban AC sehingga menghemat energi. Selain itu, juga dapat mempertahankan suhu udara ruang.

Konservasi energi pada selubung bangunan hanya berlaku untuk komponen dinding dan atap pada bangunan gedung yang dikondisikan (memiliki sistem tata udara) serta harus memenuhi syarat yaitu nilai perpindahan termal menyeluruh (Overall Thermal Trasfer Value-OTTV) tidak melebihi 35 W/m2. Untuk memperoleh kriteria desain yang memenuhi syarat tersebut, hendaknya mempertimbangkan perbandingan luas jendela dengan luas seluruh dinding luar (Window Wall Ratio-WWR), orientasi bangunan (arah hadap), jenis, tebal dan warna dinding luar, elemen peneduh, konduktansi kaca, insulasi atap dan dinding, serta perhatikan pemilihan koefisien dari material selubung bangunan berdasarkan atas data rekomendasi dari pabrikan.

Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayan pada sektor komersial lebih kompleks dibandingkan dengan sektor perumahan. Gedung komersial banyak menggunakan cahaya buatan pada tahap operasionalnya untuk berbagai kegiatan, meliputi: penerangan dalam gedung dan luar gedung, penerangan jalanan, dekorasi dan papan reklame. Penerangan utama di area utama dan komersial hendaknya gunakan lampu fluoresen efisiensi tinggi (T5 atau T8) dan gunakan balas elektronik frekuensi tinggi. Gunakan sistem lampu berintensitas tinggi seperti Light Emitting Diode (LED) untuk penerangan luar ruangan. Instalasi penempatan sakelar lampu di tempat yang mudah dijangkau dan mudah dilihat oleh penghuni gedung dapat mendukung perilaku hemat energi. Penjadwalan “on-off” lampu dan Building Automation System (BAS) akan membantu menekan konsumsi energi listrik.

Optimalisasi pemanfataan cahaya alami dengan desain dan pemilihan material glazing yang tepat dapat menghemat sistem pencahaya buatan sebesar 32%. Untuk memaksimalkan cahaya alami yang masuk ke dalam ruang interior, desainer perlu mengevaluasi dampak dari orientasi gedung terhadap kemungkinan opsi potensi cahaya alami dan menyediakan skylight ditambah dengan teknologi yang dapat meneruskan cahaya matahari lebih jauh ke dalam ruangan seperti light shelves, louvers, dan adjustable blind.

  1. Gedung Terbangun (Existing Building)

Perangkat alat dari sistem tata udara dan sistem pencahayaan pada sebuah bangunan gedung semakin lama akan menurun performanya dan berdampak pada borosnya biaya listrik. Sedangkan, di Indonesia sekitar 98% merupakan gedung terbangun. Untuk meningkatkan performa gedung terbangun maka perlu melakukan audit energi agar dapat mengidentifikasi dan menganalisis masalah efisiensi energi pada sistem MVAC dan sistem pencahayaannya. Hasil audit energi digunakan untuk menentukan langkah penghematan yang tepat. Berikut ini langkah penghematan energi yang dapat dilakukan:

Retrofitting

Retrofitting artinya memodifikasi komponen bangunan yang sudah ada dengan menambahkan atau mengganti komponen guna meningkatkan performanya. Dari segi arsitektur, gedung dapat dirombak agar lebih efisien misalnya dengan memanfaatkan cahaya alami, seperti: memperbanyak bukaan dan partisi transparan. Dari segi mekanikal elektrikal, biasanya sistem AC yang tidak efisien menjadi penyebab utama tagihan istrik yang membengkak. Optimasi efisiensi MVAC dengan kalibrasi dan re-commissioning peralatan, tune-up unit AC, cooling tower dan pompa air menjanjikan penghematan biaya listrik bagi operasional perusahaan sebesar 25%-35%.

Penerapan Teknologi Hemat Energi

Penggantian peralatan lama dengan peralatan hemat energi akan membutuhkan investasi yang tergolong menengah dengan potensi penghematan energi sebesar 15%-25%. Penerapan teknologi hemat energi, antara lain: upgrade peralatan kantor seperti komputer, printer, mesin foto kopi dan elektronik lainnya yang hemat energi. Hendaknya gunakan peralatan yang sesuai standar dan labeling efisien energi dari Pemerintah.

Lampu yang sudah lama digunakan, lumennya akan menurun, sementara listrik yang digunakan tidak ikut turun sehingga tidak lagi efisien dan membuat listrik jadi boros. Penghematannya dapat menggunakan lampu hemat energi. Lampu T5 yang dikombinasikan dengan balas elektronik frekuensi tinggi dapat menghemat energi sampai dengan 40% dibandingkan dengan lampu fluoresen standar.

Perilaku Hemat Energi

Penghematan energi akan lebih efisien jika melibatkan seluruh penghuni gedung untuk memahami dan melakukan perilaku hemat energi secara bersama-sama. Hal yang paling utama adalah adanya komitmen dari manajemen tertinggi yang mau mendukung gerakan ini, sehingga lebih mudah menerapkannya ke dalam program manajemen energi, seperti pelatihan mengenai cara penghematan energi kepada karyawan .

Untuk melibatkan penghuni gedung, manajemen gedung hendaknya menghimbau seluruh penghuni gedung atau membuat kampanye hemat energi yang diletakkan pada tempat yang strategis. Praktik hemat energi perlu dibiasakan, seperti mematikan lampu ruangan jika tidak digunakan, mencabut kabel listrik dari stop kontak ketika elektronik tidak lagi digunakan, dan menyetel pendingin ruangan 25oC. Cara ini merupakan investasi dengan biaya rendah namun tetap berpotensi menghemat energi sebesar 7%-11%.

Tentunya kita tidak ingin melihat masa depan anak cucu kita suram karena pasokan listrik tidak dapat menopang aktivitas hidup mereka lagi. Nah, marilah kita mulai menghemat listrik saat ini, lakukan dari hal yang mudah di kantor atau di rumah kita, seperti perilaku hemat energi. Ajak juga keluarga dan kerabat untuk melakukannya, hal yang tidak sulit namun akan berdampak besar terhadap lingkungan dan juga demi generasi selanjutnya. Perilaku hemat energi adalah hal yang sederhana namun heroik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: