Respon Publik terhadap Aplikasi Green Building

Isu mengenai lingkungan hidup nampaknya belum menjadi tren yang hangat di kalangan umum atau mungkin bisa dikatakan bahwa isu ini tidak populer. Orang akan lebih gandrung membicarakan tren gaya hidup, fashion dan kuliner atau hobi yang merupakan topik yang dapat membangkitkan serta memaksimalkan kesenangan diri sendiri. Hanya diri sendiri yang dipertimbangkan, kesenangan sendiri yang coba dipuaskan. Disini, egoisme (selfishness) menjadi sikap ideal. Struktur yang terlibat dalam mekanisme kesenangan adalah konteks prefrontal pada otak kita, yang berperan dalam merencanakan dan memotivasi tindakan mapan. Konteks prefrontal adalah relay yang signifikan dalam sirkuit reward dan juga dimodulasi oleh dopamine.

Dengan demikian, keputusan moral merupakan keputusan yang unik. Ketika kita sedang membuat keputusan moral, sikap egosentris menjadi bumerang. Keputusan moral harus mempertimbangkan orang lain. Kita tidak dapat berlaku rakus dan kasar atau marah tidak karuan untuk menghindari kejahatan dan penjara. Berbuat baik berarti memperhitungkan orang lain, menggunakan otak emosional untuk membaca emosi-emosi orang lain. Egoisme mesti diimbangi dengan altrusime (selflessness).

Konsep reward and punishment adalah hasil kerja nucleus accumbens (NAcc) yang merupakan sirkuit yang sudah terbentuk pada otak primitf manusia. Sirkuit reward NAcc ada pada otak semua mamalia, jadi konsep reward and punishment sudah dikenal oleh otak tikus sekalipun.

Dalam konteks perilaku yang ramah lingkungan, banyak sudah penjelasan akan manfaatnya bagi lingkungan hidup dan untuk generasi mendatang. Reward yang ditawarkan cenderung untuk orang lain dan perlu penjelasan panjang sampai kepada reward yang terkait kepada diri kita sendiri. Sedangkan dalam konteks punishment yang diberikan jika kita tidak melakukan perilaku ramah lingkungan, akan cenderung tidak langsung berdampak kepada diri sendiri seperti ancaman penjara atau keselamatan kita secara langsung. Contoh: mematikan lampu dirumah saat tidak digunakan, jika ditilik dari alasan lingkungannya adalah untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik dan untuk menghemat bahan bakar fosil demi generasi mendatang. Tetapi, seringkali nalar kita tidak langsung menangkap sinyal adanya kesenangan dari alasan tersebut karena secara pribadi hal tersebut tidak memberi keuntungan diri sendiri. Lain halnya jika ditawarkan akan adanya uang yang dihemat jika kita mematikan lampu. Bagi sebagian orang, mungkin akan terasa jika bisa menghemat beberapa puluh atau ratusan ribu dari biaya tagihan listrik bulanan, tapi bagi kaum menengah keatas, maka penghematan tersebut dirasa tidak cukup memuaskan. Hal ini karena tarif listrik di Indonesia masih disubsidi oleh pemerintah, dimana subsidi untuk industri 26,8% atau sebesar Rp. 19,4 triliun, bisnis 6,4% sebesar Rp 4,68 triliun dan pemerintah disubsidi 1,7% sebesar Rp. 1,3 triliun, serta kelompok rumah tangga sekitar 47,2% dari anggaran subsidi.

Di Singapura semua tipe unit residensial dikenakan tarif 25,79 ¢/kWh (setara Rp. 2017/kWh), sedangkan di Indonesia saat ini untuk pelanggan rumah tangga dan bisnis dengan daya 6.600 ke atas membayar tarif Rp. 1.330/kWh. Belum lagi, konsumen yang menggunakan daya dibawah 6.600 VA, tarifnya lebih kecil lagi dan semakin jauh selisihnya dibandingkan dengan tarif listrik Singapura yang tidak memberlakukan subsidi listrik. Tidak terasa beratnya biaya listrik yang kita keluarkan (karena masih disubsidi), maka sulit bagi kita untuk ikut berhemat listrik, karena kalaupun kita berhemat, bisa jadi tidak seberapa jumlahnya.

Pada tahun 2007 hingga tahun 2010, Singapura memberlakukan skema insentif untuk pembangunan bangunan baru yang ramah lingkungan sebesar S$ 20 juta untuk Higher Gross Floor Area. Pada tahun 2006, ada tujuh bangunan baru mendapat sertifikasi GreenMark, kemudian pada tahun 2007-2010, terjadi peningkatan pesat sebesar 127-448 bangunan baru yang telah disertifikasi(a). Para pelaku disektor bangunan terstimulus untuk membuat green building karena adanya reward berupa insentif dan juga penghematan listrik yang signifikan dari performa green building.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah edukasi (antara lain berupa pelatihan GREENSHIP Associate dan GREENSHIP Professional) dapat menggugah dari pemahaman diri pribadi menuju komitmen bersama tanpa adanya reward yang ditawarkan? Atau mungkinkah pemerintah perlu membuat punishment bagi pelaku sektor bangunan yang tidak taat, misalnya berupa hukuman penjara atau denda bagi pelanggarnya (jika pemerintah kurang mampu menawarkan skema insentif)?

Konsep punish and reward (bagi pelaku di sektor bangunan yang melihat keuntungan berperilaku ramah lingkungan dari keuntungan materi berupa hemat uang untuk diri pribadi) berbeda dengan pribadi altruis atau orang yang mampu dan mau berperilaku demi kebaikan orang lain dan generasi mendatang. Dalam perjalanan evolusinya, manusia yang altruis jumlahnya semakin banyak meski tidak sebanyak yang cenderung pada konsep punish and reward.

Beberapa rencana skema penurunan subsidi listrik memang sudah digulirkan, namun realisasi belum juga terjadi. Oleh karena itu, jika negara kita belum mampu menawarkan reward atau punishment untuk kemajuan green building, namun setidaknya mari kita berkaca dan memulainya dari kesadaran diri pribadi.

(.. Diterbitkan di Newsletters atau blog GBCI, 17 Oktober 2012 ..)

Bibliografi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: