Interior Ramah Lingkungan

What is the use of house if you don’t have a decent planet to put it on?”. Pertanyaan tersebut sudah dilontarkan oleh Henry David Thoreau, seorang naturalis dari Amerika, sekitar 150 tahun silam. Lalu dalam beberapa dekade terakhir ini, hal yang sama menjadi perhatian dunia. Meningkatnya pengetahuan akan terjadinya perubahan iklim global akibat aktivitas manusia menjadi momentum yang tepat untuk menyusun strategi pengurangan emisi karbon dan dampak lingkungan lainnya di sektor bangunan.

Dorongan ke arah desain yang berkelanjutan meningkat pada tahun 1990-an dan menelurkan sistem peringkat bangunan hijau yang pertama kali pada tahun 2000 di Inggris yang disebut Building Research Establishment’s Environmental Assessment Method (BREEAM), kemudian United States Green Building Council (USGBC) mengikutinya dengan merilis sistem peringkat bangunan hijau yang disebut dengan Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) for New Construction. Pendekatan sistem peringkat ini dilakukan dengan mempertimbangkan peraturan pemerintah setempat dan disesuaikan dengan isu lingkungan di masing-masing negara. Indonesia sebagai negara tropis tentunya memerlukan pendekatan desain berkelanjutan yang berbeda dengan desain bangunan di negara empat musim. Oleh karena itu, pada April 2008 berdiri Konsil Bangunan Hijau Indonesia (Green Building Council Indonesia) dan meluncurkan sistem peringkat bangunan hijau pada 17 Juni 2010 yang disebut Greenship, untuk bangunan baru.

Desain bangunan yang ramah lingkungan bertujuan untuk menghemat energi listrik yang berarti mengurangi emisi karbon dan menghemat biaya operasional gedung, serta menjaga produktivitas penghuninya dengan menjaga kualitas udara ruang yang sehat. Jika desain bangunan hanya memperoleh performa bangunannya saja yang prima, tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan penghuninya, maka bangunan tersebut belum dapat disebut berkelanjutan. Polusi udara di dalam gedung, seringkali berasal dari emisi material furnishing dan komponen perabotan. Oleh karena itu, desain gedung yang ramah lingkungan harus didukung oleh desain interior yang juga ramah lingkungan.

Greenship Ruang Interior

Greenship Ruang Interior adalah sistem penilaian untuk mewujudkan suatu konsep interior yang ramah lingkungan, meliputi penilaian pada tahap fit out, kebijakan pihak manajemen dalam melakukan pemilihan lokasi atau pemilihan gedung serta pengelolaan yang dilakukan oleh pihak manajemen setelah aktivitas di dalamnya mulai beroperasi. Obyek penilaian Greenship Ruang Interior bertitik berat pada sebagian atau seluruh ruangan di dalam gedung dengan peranan penting pihak manajemen gedung dan desainer interior.

Seperti sistem peringkat Greenship lainnya, tingkat peringkat Greenship Ruang Interior berdasarkan empat kategori yaitu Platinum (dengan pencapaian nilai minimum 75). Gold (59), Silver (47), dan Bronze (36). Perolehan nilai berasal dari penilaian enam kategori yaitu Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD), Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency and Conservation/EEC), Konservasi Air (Water Conservation/WAC), Sumber dan Siklus Material (Material Resources and Cycle/MRC), Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruang (Indoor Health and Comfort/IHC), dan Manajemen Lingkungan Bangunan (Building Environment Management/BEM). Dari keenam kategori tersebut fokus terbesar yaitu di kategori IHC (maksimum nilai 29) dan MRC (maksimum nilai 28), kemudian dilanjutkan kategori EEC (maksimum nilai 14), ASD dan BEM (maksimum nilai 12), serta WAC (maksimum nilai 8), total nilai dari seluruh kategori adalah 103.

Desain interior yang ramah lingkungan tidak hanya bicara mengenai estetika, kecantikan dan keindahan, tetapi juga harus bicara mengenai sehat, aman dan nyaman. Disini, konsep mengenai kualitas udara ruang dalam harus mulai dipikirkan. Selain itu, desain interior yang ramah lingkungan juga bicara mengenai keberlanjutan. Desainer interior perlu mencari tahu lebih dalam mengenai produk-produk yang digunakan, seperti: apakah console table yang digunakan berasal dari kayu hasil hutan produksi yang legal.

Fokus utama desainer interior di dalam Greenship Ruang Interior adalah perannya terhadap terwujudnya kualitas udara dalam ruang yang sehat dan nyaman dan pemilihan material yang ramah lingkungan.

Kualitas Ruang Dalam yang Sehat dan Nyaman

Cat interior biasanya mengandung senyawa organik yang mudah menguap (Volatile Organic Compound/VOC). Terkadang untuk mendapatkan warna tembok interior yang pas, dilakukan pengecatan berlapis-lapis. Pemilihan cat lebih didasarkan kepada selera warna dibandingkan dengan pertimbangan kandungan zat yang dapat membahayakan kesehatan yaitu VOC. Cat, tentu saja tidak digunakan untuk tembok tetapi juga langit-langit dan perabotan. Beberapa penelitian menunjukkan, emisi VOC dari material bangunan terbukti dapat menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan, sakit kepala, serta berpotensi kanker. Semakin tinggi kadar VOC di ruangan maka keluhan gangguan kesehatan semakin besar. Dampak ini tentunya akan lebih dirasakan oleh petugas yang mengecat.

Saat ini, cat interior ramah lingkungan dapat dengan mudah kita temukan di pasaran. Meskipun masih banyak konsumen yang berorientasi kepada harga yang lebih murah, namun desainer interior yang sudah paham akan pentingnya kesehatan jangka panjang, maka sudah selayaknya memprioritaskan pemilihan cat yang ramah lingkungan. Terlebih lagi jika cat ini untuk keperluan kamar bayi atau ruang berkumpul keluarga. Tentunya kita tidak ingin, orang-orang yang kita sayangi akan terpajan polusi yang membahayakan kesehatan.

Untuk mengetahui cat ramah lingkungan dapat ditanyakan kepada produsen atau melihat pada Material Safety Data Sheet (MSDS) mengenai kadar VOCnya. Untuk cat emulsi yang ramah lingkungan, kadar VOC maksimum adalah 50 gram/liter. Selain mengetahui kadar VOC, dapat juga dengan melihat sertifikat hasil uji dari lembaga sertifikasi tertentu, seperti Singapore Green Label Sheme dari Singapura, European Eco Label dari Uni Eropa, dan Green Seal dari Amerika Serikat. Di Indonesia, untuk saat ini belum ada lembaga kompeten yang melakukan uji cat ramah lingkungan.

Perabotan dan karpet juga berdampak terhadap kualitas udara. Biasanya emisi formaldehida yang dihasilkan kayu lapis dan kayu komposit berasal dari zat perekat kayu dan pernis. Perabotan dan karpet akan berada dalam kondisi terbungkus rapat ketika kita membeli, dan sesampainya di ruangan yang dituju, barulah kemasan dibuka. Saat itulah, perabot mengeluarkan emisi formaldehida yang seringkali membuat mata perih dan bau yang menyengat. Biasanya reaksi keluhan akan cepat muncul bagi orang-orang yang memiliki alergi, sensitif dan asma. Dengan demikian, interior menjadi tidak indah jika kita tidak nyaman bernapas.

Lebih dalam mengenai interior ramah lingkungan, yaitu sinar matahari yang masuk ke ruangan melalui jendela, penting untuk kesehatan dan dapat meningkatkan suasana hati (mood) serta menghemat biaya penerangan. Kualitas tingkat pencahayaan lampu perlu disesuaikan dengan aktivitas penghuninya sehingga dapat nyaman beraktivitas. Tren panggunaan Air Conditioning (AC) kerap mengabaikan kenyamanan karena terlalu dinginnya pengaturan suhu ruangan. Tersedianya fasilitas pengaturan suhu di ruangan yang mudah dijangkau dapat menjadi solusi untuk kenyamanan penghuni gedung. Satu hal lagi adalah mengenai kualitas akustik. Saat ini tata akustik belum menjadi perhatian utama seperti tata udara bagi desainer arsitektural, dengan demikian desainer interiorlah yang perlu memperhatikan kenyamanan penggunanya. Jangan sampai kebisingan menjadi hambatan produktivitas penghuni gedung karena sulitnya berkonsentrasi atau komunikasi yang tidak memadai.

Tanaman hias di dalam ruangan dapat mereduksi polutan udara seperti formaldehida, benzena, dan karbondioksida. Selain itu juga dapat menambah estetika unsur alam di lingkungan kerja sehingga memberikan suasana nyaman dan dapat mengurangi stres. Efek negatifnya adalah udara ruang menjadi lebih lembab dan adanya potensi mikroba serta hama dari media tanam. Untuk mencegah hal tersebut, maka perlu dilakukan pemilihan jenis tanaman yang adaptif untuk suasana interior dan sehat serta memilih media tanam yang tidak menjadi sarang penyakit. Penempatannya juga tidak boleh mengganggu jalur sirkulasi pengguna gedung. Penyediaan tanaman di halaman atau tanaman hias pada balkon akan memberikan keteduhan dan udara segar yang masuk ke ruangan.

Material Ramah Lingkungan

Pemilihan material interior yang ramah lingkungan memerlukan kepedulian yang tinggi dari desainer interior. Dalam hal ini, desainer interior harus jeli menelusuri informasi produk secara lebih dalam. Adapun kriteria produk interior yang ramah lingkungan meliputi kriteria berikut ini: material bekas, material dari sumber terbarukan, material daur ulang, kayu bersertifikat, material dengan proses produksi ramah lingkungan, material prefababrikasi atau material modular, material yang lokasi pabrik dan asal bahan bakunya berada pada skala regional (untuk mengurangi jejak karbon dari proses pengangkutan).

Material interior yang berasal dari sumber terbarukan adalah material yang berasal dari hasil pertanian baik berupa tanaman ataupun hewan dengan masa panen jangka pendek, biasanya maksimum 10 tahun. Sebagian tanaman yang menjadi bahan baku material interior juga merupakan tanaman produktif yang dijadikan sumber pangan. Namun, umumnya bagian yang dapat dimakan tidak digunakan untuk diolah sebagai bahan baku material tersebut. Contoh material terbarukan antara lain: insulasi dari serat kapas, dekorasi dinding atau penutup lantai dari serabut dan tempurung kelapa, penutup lantai dan dinding dari bambu, perabotan dari rotan dan kayu sengon, aksesori lampu dari pangkal tangkai enceng gondok.

Material dengan proses produksi yang mempunyai sistem manajemen lingkungan, umumnya dapat diketahui melalui informasi di website resmi perusahaan atau pada brosur produk. Standar yang biasanya digunakan untuk mengetahui adanya sistem manajemen lingkungan suatu produk antara lain dapat mengacu pada standar nasional seperti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) maupun internasional seperti ISO 14001.

Material prefabrikas merupakan material yang memiliki proses fabrikasi yang dilaksanakan dengan menggunakan alat-alat khusus dimana berbagai jenis material membentuk suatu bagian dari bangunan. Komponen-komponen prefabrikasi tersebut dapat diletakkan pada tempat yang bukan posisinya agar dapat dipindahkan dari pabrik ke lokasi proyek dengan moda transportasi. Sesampainya di lokasi proyek, komponen-komponen tersebut dapat dirakit sesuai dengan posisi yang seharusnya. Penggunaan material prefabrikasi adalah upaya mereduksi sampah proyek ketika proses fit-out sehingga mengurangi beban sampah di tempat pembuangan akhir.

Maraknya informasi mengenai ketersediaan produk material yang ramah lingkungan di pasaran dewasa ini, baik melalui internet maupun media cetak, tentunya akan memudahkan para desainer interior dalam mengimplementasi interior yang ramah lingkungan. Pengetahuan saja rasanya belum cukup untuk mewujudkan desain interior di negara ini. Kepedulian yang didukung oleh komitmen bersama dari para desainer interior merupakan kekuatan penuh untuk menjadi agen perubah dalam memerangi perubahan iklim global melalui desain yang mampu menjaga kesehatan penghuninya dan mencegah kerusakan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: