Rumah dan Kelembaban

Musim penghujan telah tiba. Pernahkah terpikir untuk menghubungkan antara hujan dengan lembab di rumah anda? Mungkin anda sering jumpai rumah-rumah dengan kondisi masalah lembab dan jamur yang serius namun dibiarkan begitu saja. Hal ini disebabkan masih kurangnya perhatian kita terhadap isu lembab. Sebelum membahas lebih jauh tentang lembab, disini akan sedikit diuraikan mengenai perbedaan istilah: moisture, humidity dan dampness, yang dalam bahasa Indonesia memiliki kata yang sama yaitu lembab.

Sumber Lembab dan Risiko Kesehatan

Moisture (lembab) dalam bangunan dapat berupa uap air atau titik air atau basah, biasanya dapat dirasakan atau dilihat pada obyek atau menempel pada bahan bangunan. Sedangkan Humidity (lembab) merupakan tingkat basah yang ada di udara dari hasil penguapan air, keberadaannya tidak selalu dapat dirasakan, kecuali ketika mengembun dalam bentuk droplet atau tetesan air pada permukaan bangunan yang lebih dingin dari sekitarnya.

Moisture dalam struktur bangunan dapat mempengaruhi bahan bangunan yang mengarah ke proses mikrobiologis dan kimia, misalnya dengan mengemisi zat berbau dan iritan dan/atau alergen. Kelembaban relatif (relative humidity) di udara dalam ruangan dapat menyebabkan kondensasi pada permukaan ruangan yang dingin, juga mengakibatkan pertumbuhan mikroba dan proses kimia. Peningkatan humidity juga dapat meningkatkan risiko serangan tungau debu rumah.

Dinding LembabIstilah ‘dampness’ merupakan indikator lembab yang tergantung dari sumber masalah di dalam bangunan. Misalnya: “visible mold” (jamur pada dinding) dan kondensasi di dinding adalah indikasi tingginya  kelembaban relatif di dalam ruang ditambah kombinasi permukaan yang dingin. Sedangkan, “damp stain and spots” (bercak noda pada dinding), “damp water damage” (dinding rusak karena lembab), dan bau pengap atau apek seringkali merupakan indikasi moisture pada konstruksi bangunan.

Berikut ini beberapa faktor risiko lembab pada bangunan, antara lain: konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai dan dinding yang tidak kedap air, emisi cat dinding (bahan bangunan) yang belum kering, uap air dari aktivitas memasak, aktivitas mandi, respirasi, pipa air yang bocor, dan banjir.

Perkembangan Studi tentang Lembab

Adanya hubungan antara kesehatan dan “dampness” (kelembaban) merupakan pembahasan para pakar dari multidisiplin ilmu, antara lain melibatkan ilmu kesehatan dan keselamatan kerja (K3), kesehatan masyarakat, teknologi HVAC, fisika bangunan, mikrobiologi, dan epidemiologi. Berdasarkan studi tersebut (Bornehag, et al. 2001), tinggal atau bekerja di gedung yang damp (basah) nampaknya meningkatkan risiko untuk sejumlah efek kesehatan terutama gejala pernapasan seperti batuk dan asma, termasuk gejala tidak spesifik seperti kelelahan dan sakit kepala. Hasil diskusi dan analisis menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kelembaban dan efek kesehatan. Namun, tidak diketahui seperti apa agen kelembaban (misalnya seberapa lembab) di udara dalam ruangan yang menyebabkan efek kesehatan.

Pengetahuan yang terbatas tentang mekanisme di balik hubungan antara kelembaban dan efek kesehatan bukan berarti menjadi kita tidak bisa ikut campur tangan dalam masalah kelembaban di gedung.

Hal yang jelas dikemukakan adalah adanya dugaan kuat mengenai kelembaban yang menyebabkan efek kesehatan dan lagipula hingga saat ini belum ada indikasi bahwa tinggal di sebuah bangunan lembab dapat meningkatkan kesehatan. Jadi, hal ini merupakan sebuah tantangan besar untuk ilmu pengetahuan dalam menjelaskan asosiasi tersebut. Hal yang terlihat jelas adalah dampak lembab berupa jamur dan noda di tembok atau langit-langit rumah anda akan menurunkan estetika interior bangunan, bahkan terkadang bau apek yang ada akan mengganggu kenyamanan anda. Sebagai saran praktis adalah sebaiknya menghindari kelembaban dalam bangunan.

Menghindari Lembab di Rumah Anda

Pada umumnya Negara tropis yang merupakan kondisi lingkungan perumahan anda, berada pada kondisi kelembaban udara yang tinggi. Upaya untuk menjaga rumah anda dari lembab, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Perhatikan sirkulasi udara

Area basah seperti kamar mandi dan uap dapur menyebabkan uap air terperangkap di dalam rumah dan menjadi lembab. Dengan memasang exhaust fan atau menambah jumlah dan luas jendela di rumah anda, dapat mencegah dan mengurangi kondensasi yang terjadi. Caranya cukup mudah yaitu dengan membuka jendela atau mengaktifkan exhaust fan untuk memasukkan udara segar dari luar agar terjadi aliran udara segar ke dalam ruangan rumah anda.

  • Periksa atap rumah

Biasanya memeriksa dan membersihkan atap rumah, jarang dilakukan bahkan dianggap enteng. Bila dilakukan, biasanya ketika musim hujan telah tiba dan atap bocor sudah terasa mengganggu. Jika anda belum merasa tergganggu, biasanya dibiarkan saja dan pada keadaan inilah lama-lama akan nampak bercak noda jamur pada langit-langit dan tembok rumah anda.

Sebaiknya, atap rumah harus tersegel dengan baik dan lebih baik jika ditambahkan pelapis anti bocor. Pastikan juga saluran air hujan di atap rumah anda tidak tersumbat oleh daun kering atau kotoran lainnya yang dapat menyebabkan air hujan tumpah atau merendam rongga atap atau mengalir melalui talang ke tembok luar sehingga atap dan dinding menjadi basah dan lembab.

  • Periksa pipa saluran air

Pipa air yang bocor seringkali diabaikan. Padahal bocor yang kecil dan lambat tetapi dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan bahan bangunan di sekitarnya dan rumah menjadi terasa lembab. Jadi jika anda merasa lembab pada rumah anda, sebaiknya coba periksa pipa saluran air.

  • Pastikan lantai dan dinding anda kedap air

Kondisi lantai dan dinding yang tidak kedap bisa saja terasa basah akibat rembesan air atau lembab dari tanah meskipun di cuaca panas. Air dari luar atau dari dalam tanah bisa mengalir melalui celah lantai dan dinding yang tidak kedap (karena berporous) terutama rumah di daerah yang lebih rendah dari permukaan air. Hal ini akan menjadi masalah ketika musim penghujan tiba dan ketika permukaan tanah sudah jenuh air sehingga rembesan air akan kerap terjadi. Solusinya memang agak rumit yaitu merombak kembali permukaan lantai rumah agar lebih tinggi dibandingkan permukaan air, atau dengan cara melapiskan dinding dan lantai agar lebih kedap air untuk mencegah lembab melalui celah yang ada.

  • Memasukan sinar matahari ke dalam rumah

Sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah melalui bukaan jendela yang cukup, atau dengan membuat atap atau dinding kaca. Sinar matahari dapat membantu mengeringkan area basah dan juga menyehatkan keluarga anda. Oleh karena itu, sediakan sinar matahari ke dalam rumah anda dalam jumlah yang cukup.

  •  Perhatikan air buangan AC

Tren penggunaan Air Conditioning (AC) di rumah merupakan alih-alih untuk menciptakan udara yang nyaman dari panasnya udara di ibukota. Air buangan AC seringkali diabaikan dan dibiarkan mengalir begitu saja di lantai luar rumah dan menjadi suasana yang kondusif untuk berkembangnya jamur dan lumut. Bahkan, tak jarang ditemui, air hasil kondensasi AC ini perlahan merembes ke dalam dinding rumah sehingga dinding interior terkelupas catnya hingga berjamur. Untuk mengatasinya, sebaiknya alirkan air tersebut dengan selang langsung ke saluran buangan atau tampung dahulu ke ember dan anda bisa gunakan air tampungan ini untuk menyiram tanaman.  Nah, yang terakhir ini sekalian untuk menghemat air. Selamat mencoba.

(Diterbitkan di Majalah Media Properti (Mitra Properti Indonesia). Edisi 2-II. Maret 2013.

Bahan Bacaan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: